Sumber Sejarah Kerajaan Pajang; Raja-raja, Runtuhnya, dan Peninggalan-peninggalan
Petilasan Kraton Pajang (Instagram/@michp2704)

Bagikan:

JAKARTA - Sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa selalu diwarnai dengan dendam dan pertumpahan darah. Sebagamana ketika Hadiwijaya (Jaka Tingkir) menyingkirkan pemimpin Kerajaan Demak, Arya Penangsang. Lalu berdirilah Kerajaan Pajang pada tahun 1568 Masehi.

Sebelum berdiri sendiri menjadi kerajaan, Pajang merupakan wilayah di bawah kekuasaan Kerajaan Demak. Wilayah Pajang dipimpin oleh Adipati Jaka Tingkir. Jaka Tingkir masih memiliki hubungan dengan Kerajaan Demak. Ia merupakan menantu dari Sultan Trenggono.

Namun tibalah suatu ketika, Jaka Tingkir menyerang Kerajaan Demak. Serangan tersebut mengusung misi balas dendam Ratu Kalinyamat yang bekerja sama dengan Bupati Pajang. Bupati Jepara tersebut ingin menyingkirkan Arya Penangsang yang telah membunuh suami dan adik suaminya.

Setelah Arya Penangsang Lengser, Jaka Tingkir diangkat menjadi pemimpin Demak. Ia mendapat gelar Sultan Hadiwijaya, yakni gelar pengukuhan dari wilayah-wilayah yang berada di bawah Kerajaan Demak.

Sultan Hadiwijaya kemudian memindahkan pusat pemerintahan dari Demak ke Pajang. Selain kekuasaan, Hadiwijaya juga memindahkan seluruh benda pusaka Kerajaan demak ke Pajang. Ia pun menjadi raja pertama Kerajaan Pajang.

Letak Kerajaan Pajang

Berdasarkan sumber sejarah Kerajaan Pajang, letaknya berada di Pajang, Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah. Lokasinya berada di Surakarta bagian barat. Kerajaan tersebut berada di datarang rendah, dan diapit oleh Sungai Pepe dan Sungai Dangke.

Wilayah kekuasaan Kerajaan Pajang meliputi Pengging (Boyolali dan Klaten), Butuh (Madiun dan derah lain di kawasan Sungai Bengawan Solo), Tingkir (Salatiga), Mataram, Bagelen, Kedu, Pati, Demak, Jeparang, Bojonegoro, Kediri, dan beberapa kota besar di Jawa Timur.

Masa Kejayaan Kerajaan Pajang

Saat dipimpin oleh Hadiwijaya, Kerajaan Pajang mencapai puncak masa kejayaannya. Raja-raja penting di Jawa Timur pada saat itu mengakui kedudukan dan wilayah kekuasaannya.

Selain itu, Raja Hadiwijaya juga berhasil membuat kekuasaannya bertambah luas. Dari tanah pedalamannya, ia berhasil memegang wilayah ke arah timur, yakni sampai madiun. Tahun 1554, ia berhasil menggulingkan Blora. Ia juga menaklukan Kediri pada tahun 1577.

Tak hanya sukses dalam hal politik. Pajang juga mempunyai sumber daya alam dan sosial budaya yang maju. Daerah Kerajaan Pajang merupakan lumbung padi yang besar. Di kawasan tersebut saluran irigasi berjalan lancar. Hadiwijaya juga memperoleh penobatan sebagai Sultan Islam. Penghargaan tersebut diberikan oleh raja-raja penting di Jawa Timur.

Runtuhnya Kerajaan Pajang

Tahun 1582 terjadi perang antara Pajang dan Mataram. Usai perang, Raja Hadiwijaya sakit dan wafat. Lepas dari kepemimpinannya, kekuasaan Pajang menjadi rebutan putranya Pangeran Benawa dengan menantunya Arya Pangiri.

Tahta Kerajaan Pajang pun diambil alih oleh Arya Pangiri. Sedangkan Pengeran Benawa bertolah ke Jipang. Namun kepemimpinan Arya Pangiri tidak sebijak raja sebelumnya. Ia sibuk mengurusi upaya balas dendam terhadap Mataram. Karena hal itu, kehidupan rakyat Pajang tidak diperhatikan.

Pangeran Benawa yang merasa prihatin mengetahui kondisi Pajang. Tahun 1586, Pangeran Benawa bekerja sama dengan Sutawijaya untuk menyerang Pajang. Meski sebelumnya Sutawijaya melawan ayahnya Hadiwijaya, tetapi Pangeran Benawa masih merangkulnya sebagai saudara.

Arya Pangiri pun kalah di tangan dua persekutuan tersebut. Ia dipulangkan ke daerah asalny,  Demak. Kepemimpinan Kerajaan Pajang kemudian diambil oleh Pangeran Benawa.

Tahun 1587, pemerintahan Pangeran Benawa berakhir. Namun tidak ada putera mahkota yang meneruskan tahtanya. Karena hal itu, Pajang pun diwariskan menjadi wilayah kekuasaan Mataram.

Raja-raja Kerajaan Pajang

Kerajaan Pajang pernah dipimpin oleh lima raja dari tahun 1568 - 1618. Setiap raja memiliki kontribusi dan kekuranganya masing-masing.

Jaka Tingkir

Jaka Tingkir atau Hadiwijaya memerintah dari tahun 1568 – 1583. Raja pemberani tersebut lahir di Pengging, daerah di lereng Gunung Merapi. Ia merupakan cucu dari Sunan Kalijaga yang berasal dari Kadilangun.

Jaka Tingkir mempunyai nama kecil Mas Krebet.Nama tersebut ia dapatkan karena kelahirannya bertepatan dengan adanya pertujukan wayang beber di rumahnya. Saat remaja, ia memperoleh nama Jaka Tingkir. 

Jaka Tingkir menikah dengan puteri dari Sultan Trenggana, Raja Kerajaan Demak. Setelah berhasil menggulingkan Arya Penangsang, ia diangkat menjadi Raja Demak. Gelar “Hadiwijaya” ia dapatkan.  

Hadiwijaya lalu memindahkan pemerintahan ke Pajang dan sukses mendirikan Kerajaan Pajang. Ia berhasil menyebarkan ajaran Islam di daerah-daerah selatan Jawa. Wilayah kekuasaanya juga meluas sampai ke Jawa Timur.

Arya Pengiri 

Arya Pengiri naik tahta menjadi Raja Pajang menggantikan Hadiwijaya. Ia memimpin dari 1583 – 1586. Namun pada masa di tangannya, Kerajaan Pajang mengalami kemunduran. Ia kurang bijaksana dalam memimpin.

Karena hal itu, pemerintahannya diserang oleh persekutuan antara Pengeran Benawa dan Sutawijaya Mataram pada 1588. Arya Pangiri pun lengser. Kekuasaan Pajang kemudian diperintah oleh Pangeran benawa.

Pangeran Benawa 

Pangeran Benawa menduduki tahta Kerajaan Pajang setelah menggulingkan Arya Pengiri. Ia memerintah dari 1586 – 1587. Pada masa pemerintahannya ia menjali kerjasama yang baik dengan Kerajaan Mataram.

Pangeran Benawa hanya memerintah selama satu tahun, kemudian wafat. Sesuai keinginannya, Kerajaan Pajang kemudian diambil alih oleh Sutawijaya Mataram.

Gagak Bening 

Selepas Pangeran Benawa mangkat, Pajang berada di bawah Matara. Namun Pajang tetap memiliki raja, yakni Gagak Bening. Gagak Bening merupakan seorang Pangeran dari Mataram.

Saat memerintah, Gagak Bening gencar melakukan perombakan dan perluasan istana. Namun Gagak bening hanya memimpin sebentar dari 1587 – 1591. 

Pangeran Benawa II 

Setelah wafatnya  Gagak Bening, pemerintahan Pajang dipegang oleh Pangeran Benawa II, yang merupakan cucu Sultan Hadiwijaya. Pangeran Benawa memimpin Pajang di usia yang muda.

Masa pemerintahannya berjalan biasa-biasa saja tanpa masalah. Baru pada 1617-1618, banyak pihak mendukung agar Pajang melepaskan diri dari Mataram. Pangeran Benawa II kemudian mengerahkan pasukan untuk menyerang Mataram. Namun serangan tersebut justru membuat Pajang kalah dan hancur.

 

Peninggalan Kerajaan Pajang

Kerajaan Pajang mempunyai beberapa peninggalan yang masih bisa disambangi sampai sekarang.

Makam Jaka Tingkir

Salah satu peninggalan Pajang yang cukup melegenda adalah Makam Jaka Tingkir. Makam ini berada di Butuh, Gedongan, Plupuh, Dusun II, Gedongan, Plupuh, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.

Makam Butuh adalah nama Komplek pemakaman ini. Di kawasan kompleks terdapat sebuah masjid bernama Masjid Butuh

Kampung Batik Laweyan

Kampung Batik Laweyan saat ini terkenal sebagai perkampungan wisata batik. Kompleks perkampungan ini terletak di kelurahan Laweyan, kecamatan Laweyan, Surakarta.

Kampung ini sudah ada sejak era Kerajaan Pajang tahun 1546. Kampung ini memiliki konsep desa yang terintegrasi. Luas kampung ini, yakni 24 hektar dan dibagi menjadi 3 blok.

Masjid Leweyan Solo

Masjid Leweyan didirikan oleh Joko Tingkir sekitar tahun 1546. Lokasi masjid ini berada di Dusun Belukan, RT. 04 RW. 04, Kelurahan Pajang, Kecamatan Pajang, Surakarta. Di samping masjid terdapat makam-makam kerabat Kerajaan Pajang. Ada makam Ki Ageng Henis, seorang penasehat spiritual.

Bangunan masjid ini bergaya perpaduan tradisional Jawa, Eropa, Cina dan Islam. Bangunannya dibagi ke menjadi tiga bagian, yaitu ruang induk (utama), serambi kanan, dan serambi kiri.

Ikuti terus berita terkini dalam negeri dan luar negeri di VOI.