JAKARTA - China menyiapkan pembangkit surya raksasa di dataran tinggi Xizang. Proyek ini bukan memakai panel surya biasa, melainkan 15.927 cermin untuk menangkap panas matahari dan mengubahnya menjadi listrik.
Menurut laporan Xizang Daily yang dikutip China Daily, pembangkit listrik tenaga surya termal tipe menara di Kabupaten Amdo, Daerah Otonom Xizang, telah selesai memasang seluruh cermin. Proyek ini disebut sebagai pembangkit surya termal tipe menara tertinggi di dunia.
Pembangkit berkapasitas 100 megawatt itu dibangun oleh Xizang Development Investment Group. Proyek ini menjadi yang pertama dari jenisnya di Xizang dan masuk dalam rencana pengembangan energi daerah tersebut untuk periode 2021–2025.
Lokasinya berada di Xizang utara, wilayah yang menerima sinar matahari lebih dari 2.800 jam per tahun. Di lahan seluas 800.000 meter persegi, cermin-cermin bernama heliostat memantulkan cahaya matahari ke menara penerima di tengah area.
BACA JUGA:
Heliostat adalah cermin yang dapat diarahkan mengikuti posisi matahari. Fungsinya memusatkan cahaya ke satu titik agar panas terkumpul lebih kuat.
Nilai investasi proyek ini lebih dari 2 miliar yuan, atau sekitar Rp5,24 triliun. Perkiraan itu denganb asumsi kurs sekitar Rp2.621 per yuan.
China Daily dikutip Jumat, 29 Mei, melaporkan, pembangkit ini memakai teknologi garam cair. Cermin memusatkan panas matahari ke menara penerima. Panas itu lalu memanaskan garam hingga sekitar 560 derajat Celsius. Energi panas yang tersimpan kemudian diubah menjadi listrik melalui sistem pertukaran panas.
Di sini letak pentingnya. Berbeda dengan panel surya biasa atau fotovoltaik, PLTS termal tipe menara dapat menyimpan panas. Karena itu, pembangkit masih bisa menghasilkan listrik setelah matahari terbenam.
Proyek ini diharapkan membantu pasokan listrik di Xizang utara, wilayah yang menghadapi tantangan alam berat dan jaringan listrik yang belum selalu kuat.
Menurut perkiraan, pembangkit tersebut dapat menghasilkan sekitar 255 juta kilowatt-jam listrik per tahun. Jumlah itu setara dengan 60.000 ton batu bara standar. Emisi karbon dioksida juga diperkirakan berkurang 165.000 ton per tahun.
Pengembang menyebut proyek ini memakai sistem kendali cerdas. Riset khusus dilakukan karena lokasi proyek ekstrem yakni sangat tinggi, bersuhu rendah, sering diterpa angin kencang, dan memiliki koneksi jaringan listrik yang lemah.
Perusahaan kini mempercepat pembangunan menara penerima dan fasilitas pembangkit. Targetnya, PLTS termal ini tersambung ke jaringan listrik pada Oktober.
Teknologi yang digunakan memungkinkan pembangkit tetap menghasilkan listrik setelah matahari terbenam sehingga membantu menyediakan pasokan listrik yang lebih stabil bagi jaringan.