Bagikan:

JAKARTA – Pemerintah Inggris mulai mengubah skema pasar listriknya. Selama ini, begitu harga gas naik, harga listrik ikut terseret. Karena itu, pembangkit listrik tenaga bayu atau angin (PLTB) dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang sudah lama beroperasi akan diarahkan masuk ke skema tarif tetap.

Laporan The Guardian yang dikutip Selasa, 21 April menyebut pembangkit lama itu mencakup hampir sepertiga pasar listrik Britania Raya. Proyek-proyek energi terbarukan yang selama ini masih menerima subsidi di atas harga pasar akan diminta menandatangani kontrak dengan harga listrik yang sudah ditetapkan. Lewat skema ini, Inggris mencoba “memutus kaitan harga listrik dari harga gas”.

Langkah ini menjadi salah satu intervensi berani yang diambil pemerintah Inggris. Selama ini, saat harga gas dunia naik, harga listrik di Inggris ikut terseret. Padahal, sebagian listrik berasal dari energi terbarukan yang biaya produksinya lebih stabil. Ujungnya tetap sama yakni rumah tangga dan pelaku usaha yang menanggung beban.

Pemerintah Inggris mengumumkan kebijakan ini bersamaan dengan rencana mempercepat proyek energi bersih dan mendorong penggunaan teknologi listrik pengganti bahan bakar fosil. Dalam pidatonya, Menteri Energi Ed Miliband diperkirakan akan menegaskan bahwa Inggris harus “mempercepat langkah, bukan mundur, dalam misi energi bersih.” Pesan itu lahir lantaran dalam waktu kurang dari lima tahun, Inggris dua kali diguncang gejolak bahan bakar fosil.

Menurut The Guardian, pembangkit lama atau legacy generators akan diberi pilihan ikut kontrak baru, mirip skema yang dipakai proyek rendah karbon sejak 2017, atau menghadapi pajak atas keuntungan berlebih yang lebih tinggi. Sederhananya, pemerintah ingin lebih banyak pasokan listrik dijual dengan harga yang sudah dikunci sejak awal, sehingga tagihan warga tidak terus dipukul lonjakan pasar.

Gagasan ini sebenarnya bukan barang baru. Pada April 2022, analis dari UK Energy Research Centre sudah mengusulkannya setelah invasi Rusia ke Ukraina memicu lonjakan harga gas. Mereka memperkirakan kebijakan itu bisa menghemat 4 miliar hingga 10 miliar poundsterling per tahun jika harga pasar tetap tinggi.

Masalah Inggris memang ada pada cara pasar listriknya bekerja. Sekitar 30 persen listrik negara itu masih berasal dari pembangkit berbahan bakar gas. Karena gas ikut menentukan harga pasar secara keseluruhan, kenaikan harga gas langsung menyeret harga listrik. Di sinilah letak ganjilnya: energi terbarukan, biomassa, dan nuklir bisa ikut menikmati harga tinggi, meski ongkos produksinya tidak naik setajam gas.

Pengecualian berlaku untuk pembangkit yang sudah terikat kontrak harga tetap jangka panjang, yang di Inggris dikenal sebagai contract for difference. Skema ini pada dasarnya membuat harga jual listrik lebih pasti. Saat harga pasar jatuh, pemerintah menutup selisihnya. Saat harga pasar melonjak terlalu tinggi, kelebihan itu dikembalikan. Jadi, harga tidak dibiarkan liar.

Seperti dilaporkan The Guardian, sejak akhir 2022, pemerintah Inggris juga sudah mengenakan pajak 45 persen untuk listrik yang dijual di atas 75 pound per megawatt-jam. Kebijakan itu muncul setelah perang di Ukraina mendorong harga gas Eropa ke level sangat tinggi. Namun tekanan pasar belum benar-benar hilang. Dalam beberapa pekan terakhir, harga listrik grosir naik lagi dari sekitar 74 pound menjadi lebih dari 100 pound per MWh. Pejabat Inggris khawatir angkanya bisa naik lebih tinggi lagi jika gangguan pasar berlanjut sampai musim dingin.