JAKARTA - Harga emas global melonjak pada 8 April setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua pekan. Namun, arah pergerakan logam mulia ini selanjutnya masih bergantung pada daya tahan gencatan senjata, harga minyak, dan arah suku bunga AS.
Menurut laporan The Straits Times yang dikutip Rabu, 8 April, harga emas spot naik lebih dari 3 persen menjadi sekitar US$4.800 per ons hingga tengah hari. Sementara itu, kontrak berjangka emas naik 2 persen.
Meski menguat, harga emas masih tercatat turun sekitar 7 persen dalam sebulan terakhir dan masih berada sekitar 13 persen di bawah rekor tertingginya, yakni US$5.589 per ons pada 28 Januari.
Kesepakatan gencatan senjata itu juga mendorong pelemahan dolar AS terhadap mata uang utama lain. Bloomberg Dollar Spot Index turun 0,7 persen. Terhadap dolar Singapura, dolar AS melemah 0,5 persen menjadi S$1,2750, setelah sempat menyentuh S$1,2741, level intrahari terendah sejak 24 Maret.
BACA JUGA:
Penurunan harga minyak setelah kesepakatan itu ikut memengaruhi pergerakan emas. Harga energi yang lebih rendah dapat meredakan tekanan inflasi dan memunculkan harapan bahwa bank sentral, terutama Federal Reserve, tidak perlu menaikkan suku bunga lebih agresif. Di sisi lain, pelemahan dolar juga membuat emas lebih murah bagi investor yang memegang mata uang lain.
Strategis valas OCBC Christopher Wong, masih dikutip dari laporan The Straits Times mengatakan lonjakan harga emas mencerminkan pelepasan sebagian premi risiko geopolitik yang membebani emas sejak Maret. Menurut dia, pergerakan berikutnya akan bergantung pada apakah gencatan senjata bertahan dan apakah harga minyak yang lebih rendah membuka ruang bagi pelonggaran suku bunga Federal Reserve AS.
Pandangan lebih hati-hati datang dari Alex Ho, sales trader di CMC Singapore. Ia menilai lonjakan harga emas ini merupakan reaksi spontan pasar setelah pengumuman gencatan senjata. Meski begitu, menurut dia, faktor pendukung emas seperti pembelian bank sentral, dolar yang lebih lemah, dan inflasi yang masih tinggi tetap ada.
Sepanjang 2025, harga emas melonjak 60 persen karena risiko geopolitik, ekspektasi suku bunga lebih rendah, dan pembelian bank sentral. Kenaikan itu sempat berlanjut pada 2026, sebelum perang Iran menghapus seluruh kenaikan emas pada tahun ini.
Di tengah gejolak tersebut, Bank Rakyat China tetap menjadi pembeli utama. Pada Maret, cadangan emasnya bertambah 160.000 troy ons, sehingga tren pembelian berlanjut selama 17 bulan berturut-turut.