Bagikan:

JAKARTA - Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai prospek nilai tukar rupiah ke depan sangat bergantung pada arah pascagenjatan Amerika Serikat (AS) dan Iran, apakah berlanjut menjadi awal meredanya konflik atau hanya jeda taktis yang berisiko kembali mendorong tekanan eksternal.

“Kesepakatan ini (gencatan senjata sementara) masih jauh dari penyelesaian, isu inti konflik belum terselesaikan, dan ujian sesungguhnya tetap pada apakah lalu lintas kapal di Selat Hormuz benar-benar kembali normal,” kata Josua, dikutip Antara, Kamis, 9 April.

Ia menambahkan, bahkan terdapat penilaian bahwa jika yang terjadi hanya penundaan, harga minyak cenderung menetap di sekitar 100 dolar AS per barel sebagai pijakan baru, bukan kembali cepat ke kondisi sebelum perang.

“Saya melihat kabar gencatan senjata sementara antara AS dan Iran memang memberi bantalan positif bagi rupiah, tetapi dampaknya lebih sebagai penahan tekanan daripada pendorong penguatan besar,” kata Josua.

Setelah kesepakatan gencatan senjata AS-Iran selama dua minggu diumumkan, Josua mencatat harga minyak Brent turun sekitar 16 persen ke 91,70 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun 14 persen.

Kemudian, indeks dolar melemah sekitar 0,6-0,7 persen, imbal hasil surat utang AS menurun, dan pasar kembali membuka peluang penurunan suku bunga The Fed hingga sekitar 60 persen pada akhir tahun.

Bagi rupiah, catat Josua, kombinasi faktor ini menurunkan tekanan dari sisi impor energi, meredam dorongan penguatan dolar sebagai aset aman, dan sedikit memperbaiki selera risiko terhadap aset negara berkembang.

“Namun sebelum kabar ini pun pasar masih sangat berhati-hati. Saya menilai sentimen gencatan senjata ini belum cukup kuat untuk membalik arah rupiah secara tegas, tetapi cukup berarti untuk mencegah pelemahan yang lebih dalam dalam jangka sangat pendek,” kata dia.

Dari sisi domestik, BI pada Maret mencatat arus keluar portofolio sebesar 1,1 miliar dolar AS akibat ketegangan Timur Tengah. Jika rata-rata harga minyak berada di sekitar 75 dolar AS per barel dan nilai tukar rupiah stabil di kisaran Rp16.750 per dolar AS, Josua menilai ruang penurunan suku bunga BI praktis habis.

Sementara apabila rata-rata harga minyak naik ke 80 dolar AS per barel dan rupiah melemah ke sekitar Rp17.000 per dolar AS, arah kebijakan moneter bahkan bisa bergeser menjadi lebih ketat.

Dalam skenario ketegangan geopolitik yang berkepanjangan, Josua memandang skenario paling realistis bukan penguatan tajam rupiah, melainkan bertahan lemah namun terkelola di kisaran Rp16.900-17.100 per dolar AS.

“Ruang untuk sedikit menguat di bawah Rp17 ribu tetap ada, tetapi itu sangat bergantung pada bukti nyata bahwa pengiriman energi pulih, harga minyak tidak kembali melonjak, dan arus keluar asing tidak membesar lagi,” kata Josua.

Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari Rabu 8 April, menguat 93 poin atau 0,54 persen menjadi Rp17.012 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.105 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga bergerak menguat ke level Rp17.009 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.092 per dolar AS.