TEGAL – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyiagakan posko-posko di sejumlah ruas jalan nasional dan tol guna memastikan keselamatan serta kenyamanan pengguna jalan, terutama menghadapi kondisi cuaca ekstrem dan meningkatnya volume lalu lintas.
Setiap posko dilengkapi Disaster Relief Unit (DRU) beserta peralatan pendukung seperti sandbag, geobag, hingga sheet pile di sejumlah lokasi tertentu.
Peralatan tersebut disiapkan untuk penanganan cepat apabila terjadi bencana seperti banjir atau longsor di titik-titik rawan yang telah dipetakan sebelumnya.
“Yang paling utama dari posko ini sebenarnya adalah memastikan pengguna jalan bisa berhenti dan beristirahat jika sudah lelah. Jangan dipaksakan, karena itu berbahaya, baik bagi diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya,” ujar Menteri PU Doddy Hanggodo kepada wartawan di Posko PPK 1.1 Tegal, Sabtu, 20 Desember.
Selain sebagai tempat istirahat, posko juga berfungsi sebagai pusat pemantauan kondisi jalan.
Petugas Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1.1 Tegal yang berjaga dapat langsung mengecek kemantapan jalan di wilayah tugasnya, termasuk memastikan tidak ada lubang di badan jalan meski dalam kondisi hujan.
“Kalaupun ditemukan lubang, bisa langsung dilakukan patching atau penambalan dengan aspal dingin agar tidak mengganggu pengguna jalan,” katanya.
Untuk wilayah Jawa Tengah, tercatat terdapat 15 titik rawan banjir dan sembilan titik rawan longsor.
Kementerian PU menargetkan penanganan darurat dapat dilakukan kurang dari lima jam sejak kejadian agar tidak mengganggu aktivitas masyarakat.
“Peralatan sudah kita siapkan. Kita tidak berharap terjadi longsor atau bencana, tapi kalau pun terjadi, targetnya bisa langsung ditangani dengan cepat,” tegasnya.
Tim siaga juga selalu disiapkan di setiap posko. Selain petugas yang berjaga secara rutin, tim tambahan akan segera dikerahkan apabila terjadi kebencanaan di titik rawan.
Sementara itu, terkait kondisi kemantapan jalan di Jawa Tengah berada di kisaran 90 persen, masih sedikit di bawah standar nasional.
Masih kata Dody, pihaknya mengakui adanya penurunan akibat keterlambatan penanganan, terutama di jalur Pantura.
“Bagi kami justru bagus kalau hasil audit menunjukkan penurunan, artinya audit dilakukan dengan benar. Dari situ kita bisa fokus melakukan perbaikan,” ujarnya.
BACA JUGA:
Dia juga menyoroti kondisi sejumlah ruas jalan tol yang masih bergelombang, termasuk Tol Cipali.
Pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) setempat untuk segera melakukan perbaikan, meski pelaksanaannya kemungkinan dilakukan setelah periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) mengingat tingginya arus lalu lintas.
“Kalau sudah mendekati puncak liburan memang agak sulit dilakukan perbaikan besar. Biasanya dilakukan setelah Nataru,” tutupnya.