Bagikan:

JAKARTA - Harga minyak dunia kembali naik pada Kamis setelah Iran menuduh Amerika Serikat melanggar sejumlah poin dalam kesepakatan gencatan senjata dua pekan. Tuduhan itu memicu lagi kekhawatiran pasar soal pasokan energi di tengah situasi Timur Tengah yang belum benar-benar tenang.

Dikutip dari laporan CNBC, Kamis, 9 April, minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni naik 2,52% menjadi US$97,14 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Mei menguat 2,72% ke US$96,96 per barel.

Kenaikan ini terjadi hanya sehari setelah harga minyak mentah AS mencatat penurunan harian terbesar sejak 2020. Pergerakan itu menunjukkan pasar masih cepat bereaksi terhadap setiap perkembangan baru yang berkaitan dengan konflik dan pasokan energi.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf pada Rabu, dilansir dari laporan CNBC, menuduh Washington melanggar syarat dalam kesepakatan gencatan senjata. Dalam pernyataan yang diunggah di media sosial, ia menyebut ketidakpercayaan Iran terhadap AS lahir dari pelanggaran berulang atas berbagai komitmen.

Ghalibaf mengatakan ada tiga poin dalam proposal gencatan senjata 10 butir dari Iran yang dinilai dilanggar. Pertama, serangan Israel di Lebanon masih berlanjut. Kedua, sebuah drone dilaporkan masuk ke wilayah udara Iran. Ketiga, Teheran menilai hak Iran untuk memperkaya uranium masih ditolak.

Presiden AS Donald Trump pada Selasa mengatakan proposal Iran bisa menjadi dasar perundingan. Namun, Wakil Presiden JD Vance pada Rabu menyatakan gencatan senjata memang kerap berjalan rumit. Ia juga menegaskan posisi Washington tetap sama, yakni Iran tidak boleh memperkaya uranium. Soal Lebanon, Vance menyebut isu itu tidak masuk dalam kesepakatan.

Analis Rystad Energy Janiv Shah, masih dari CNBC mengatakan harga minyak yang kini masih di bawah US$100 per barel bisa dimanfaatkan kilang untuk kembali membeli. Namun, ia mengingatkan risiko baru bisa muncul bila pelaku pasar menunda pembelian dengan harapan harga turun lagi, sementara pasokan fisik tetap ketat.

Tuduhan Iran terhadap AS pun kembali memicu kekhawatiran pasar bahwa pasokan energi bisa terganggu jika ketegangan membesar lagi.