Bagikan:

JAKARTA - PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau (SMF) sebagai Special Mission Vehicle (SMV) Kementerian Keuangan melaporkan sepanjang tahun 2025 berhasil menyalurkan dana sebesar Rp20,88 triliun kepada lembaga penyalur pembiayaan perumahan, atau meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp17,01 triliun pada tahun 2024.

Adapun untuk mendukung penyaluran tersebut, total pendanaan yang diterima Perseroan sepanjang tahun 2025 mencapai Rp10,6 triliun.

Direktur Utama SMF Ananta Wiyogo menyampaikan perseroan terus memperkuat perannya sebagai liquidity provider dalam ekosistem pembiayaan perumahan nasional.

Dia menambahkan, capaian ini semakin diperkuat dengan kepercayaan lembaga pemeringkat internasional dan domestik. SMF memperoleh peringkat BBB dari S&P Global, id(AAA) dari Pefindo, serta AAA(idn) dari Fitch Ratings.

“Peringkat tersebut mencerminkan kemauan dan kemampuan SMF dalam memenuhi kewajiban finansial secara tepat waktu, sekaligus menunjukkan dukungan kuat Pemerintah terhadap peran SMF sebagai alat fiskal dalam sektor pembiayaan perumahan," ujarnya pada Rabu, 4 Maret.

Dalam menjalankan mandat sebagai fiscal tools pemerintah dan mendukung program KPR FLPP yang dikelola Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman, sejak 2018 SMF berkontribusi menyediakan 25 persen porsi pendanaan KPR FLPP.

Sumber pendanaan berasal dari Penyertaan Modal Negara (PMN) yang kemudian dioptimalkan melalui skema blended financing dengan penerbitan surat utang, guna memastikan keberlanjutan dan optimalisasi pembiayaan perumahan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

Hingga Desember 2025, SMF telah menyalurkan dana sebesar Rp34,37 triliun atau setara dengan pembiayaan 904.568 unit rumah.

Penyaluran tersebut merupakan hasil optimalisasi Penyertaan Modal Negara (PMN) dengan skema leveraging sebesar 1,9 kali melalui penerbitan surat utang senilai Rp17,94 triliun.

Ananta menyampaikan bahwa peran SMF sebagai special mission vehicle Kementerian Keuangan terus diperkuat untuk menjaga keberlanjutan pembiayaan perumahan nasional.

“Sebagai alat fiskal pemerintah, SMF memastikan setiap PMN yang diterima dapat dimanfaatkan secara optimal melalui skema leverage yang prudent dan terukur. Hal ini menjadi bentuk tanggung jawab kami dalam mendukung akses dan keterjangkauan pembiayaan perumahan secara berkelanjutan,” ucapnya.

Sepanjang 2025, sejumlah langkah strategis juga dilakukan perseroan yaitu dari sisi pendanaan, SMF meraih peringkat internasional BBB dan menjadi korporasi pertama yang surat utangnya memenuhi syarat sebagai underlying transaksi REPO Bank Indonesia.

Selain itu, SMF meluncurkan produk pembiayaan baru seperti Griya Nusantara dan Griya Tunas (pembiayaan mikro) untuk membantu menekan backlog kepemilikan rumah serta meningkatkan kualitas hunian, antara lain melalui program Griya Nusantara dan Griya Tunas (pembiayaan mikro).

Dalam mendukung Program Perumahan Nasional, khususnya target Program Tiga Juta Rumah, SMF memperluas akses pembiayaan bagi masyarakat yang belum terjangkau layanan keuangan formal, termasuk pekerja sektor informal dan masyarakat berpenghasilan tidak tetap.

Sepanjang 2025, melalui kerja sama dengan berbagai lembaga keuangan, pembiayaan Griya Tunas telah disalurkan untuk 52.142 unit rumah, melampaui target pemerintah sebanyak 50.000 unit.

Direktur Bisnis SMF Heliantopo menjelaskan bahwa skema ini memungkinkan masyarakat melakukan renovasi atau perbaikan rumah agar lebih layak huni, sekaligus mendukung aktivitas produktif berbasis rumah tangga.

“Ini sekaligus membuka akses ke pembiayaan yang aman dan terjangkau, serta menjadi solusi konkret dalam mengatasi backlog kelayakan hunian di Indonesia,” jelasnya.

Di tengah dinamika ekonomi dan perubahan likuiditas perbankan, SMF tetap mencatatkan kinerja keuangan yang solid yaitu hingga Desember 2025, total aset perseroan mencapai Rp66,814 triliun atau tumbuh 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya danaba bersih meningkat menjadi Rp565 miliar, naik 5 persen dibandingkan Desember 2024.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko SMF Bonai Subiakto, menegaskan bahwa pertumbuhan tersebut menunjukkan ketahanan model bisnis perusahaan yang didukung tata kelola dan manajemen risiko yang kuat.

“Laporan Keuangan Tahun 2025 telah diaudit oleh Lembaga Audit Eksternal Independen dengan opini ‘wajar, dalam semua hal yang material’. Capaian ini menunjukkan komitmen Perseroan dalam menjaga transparansi, akuntabilitas, serta pengelolaan risiko yang prudent di tengah dinamika ekonomi,” ujarnya.

Ke depan, SMF akan terus mengoptimalkan peran strategisnya, antara lain melalui sosialisasi surat utang sebagai underlying instrumen Repo Bank Indonesia, penguatan peran SMF Research Institute (SRI) dalam mendukung kebijakan perumahan, serta penyediaan pendanaan jangka panjang melalui inovasi produk keuangan berkelanjutan.

“Pada tahun 2026, kami akan terus mengakselerasi peran strategis SMF dalam membangun sektor pembiayaan perumahan yang tangguh, adaptif, dan berkelanjutan, sejalan dengan program pemerintah untuk memastikan akses hunian yang layak bagi seluruh masyarakat Indonesia,” tutup Ananta.