Bagikan:

JAKARTA - PT Pertamina (Persero) memproyeksikan terjadi kenaikan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) jenis gasoline atau bensin sebesar 12 persen selama periode libur Lebaran 2026.

Sebaliknya konsumsi gasoil atau solar diperkirakan justru mengalami penurunan di angka 14,5 persen.

Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan, perseroan telah membentuk Satuan Tugas Ramadan Idulfitri (RAFI) guna memastikan kebutuhan energi masyarakat selama periode mudik dan arus balik tetap terpenuhi.

“Kami telah meningkatkan pasokan energi, build up stok, untuk mengantisipasi peningkatan konsumsi pada BBM ini, terutama pada arus pergi dan arus balik. Stok BBM, elpiji, dan avtur sudah aman dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia,” ujarnya kepada wartawan di Jakarta, ditulis Rabu, 4 Maret.

Kata Baron, Pertamina memiliki enam kilang eksisting dengan kapasitas produksi berbagai jenis BBM untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Selain itu, sambung dia, unit bisnis di sektor hilir juga disiagakan untuk memastikan distribusi energi berjalan lancar hingga tingkat konsumen.

Sementara itu, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun mengatakan konsumsi bensin seperti Pertalite dan Pertamax diperkirakan meningkat 12 persen dari kondisi normal.

Di sisi lain, konsumsi solar justru turun karena adanya pembatasan kendaraan logistik selama periode Lebaran.

“Memang menjelang libur Idulfitri nantinya dilakukan pembatasan untuk kendaraan-kendaraan logistik ataupun besar yang biasanya membawa barang, kontainer dan lainnya, sehingga ini menurunkan (konsumsi solar), tapi di satu sisi terjadi kenaikan 12 persen untuk konsumsi dari sisi gasolin,” ujar Roberth.

Roberth juga bilang Pertamina memprediksi puncak arus mudik terjadi dalam dua gelombang, yakni pada 14 hingga 15 Maret 2026 dan 18 hingga 19 Maret 2026.

Sedangkan puncak arus balik diperkirakan berlangsung pada 24 hingga 25 Maret 2026 serta 28 hingga 29 Maret 2026.

Untuk jenis energi lainnya, konsumsi avtur diperkirakan naik 2,8 persen seiring meningkatnya minat masyarakat bepergian menggunakan pesawat.

Konsumsi kerosin atau minyak tanah diproyeksi naik 4,2 persen, sementara elpiji meningkat sekitar 4 persen dari kondisi normal.

“Tentunya ini menjadi hal yang wajar karena dari sisi elpiji juga pasti konsumsi meningkat digunakan untuk kegiatan pada saat menjelang ataupun di hari raya, ataupun pada saat Ramadan sebelumnya dengan kegiatan para ibu rumah tangga,” kata Roberth.

Dalam rangka mengantisipasi lonjakan konsumsi tersebut, sambung Roberth, Pertamina memperkuat ketahanan stok BBM nasional di level rata-rata 21 hingga 23 hari per 1 Maret 2026.

Kemudian, sebanyak 2.074 SPBU disiagakan beroperasi 24 jam di jalur utama dan wilayah dengan kepadatan tinggi.

Pertamina juga menyiapkan 6.300 agen LPG, 200 unit mobil tangki sebagai suplai cadangan, serta 64 titik Kios Pertamina Siaga dan layanan modular untuk wilayah tanpa SPBU permanen maupun kawasan wisata.

“Modular ini adalah mobil tanki yang sudah terisi dengan BBM-nya, yang memang kita taruh di beberapa titik berdekatan ataupun bahkan di lokasi SPBU. Ini dijadikan alternatif SPBU untuk jalur-jalur yang memang jumlah SPBU-nya tidak terlalu banyak ataupun kapasitas SPBU-nya tidak terlalu besar,” jelasnya.