JAKARTA - Danantara Indonesia menilai pasar semakin percaya diri menyambut reformasi perusahaan pelat merah.
Dalam laporan Economic Outlook 2026 yang dirilis pekan ini, tim riset Danantara menyebut injeksi modal yang diberikan ke sejumlah BUMN selama 2025 telah direspons positif oleh pasar.
“Sinyal harga awal dari PT Krakatau Steel, PT Garuda Indonesia, PT Timah, dan PT Telkom menunjukkan bahwa investor optimistis pada upaya pemulihan tersebut,” tulis laporan Danantara dikutip Selasa, 13 Januari.
Menurut Danantara, suntikan dana ke BUMN tak boleh dimaknai sebagai upaya penyelamatan perusahaan semata seperti skema bail-out.
Tetapi, modal yang masuk dikategorikan sebagai langkah awal untuk memperkuat struktur bisnis dan meningkatkan performa operasional.
“Suntikan modal dan restrukturisasi menjadi penting ketika disertai dengan persyaratan yang ketat, mulai dari rasionalisasi aset, peningkatan kinerja operasional, dan akuntabilitas yang kredibel,” tulis Danantara.
Danantara menegaskan injeksi modal itu dirancang untuk menciptakan nilai ekonomi berkelanjutan yang berdampak pada daya saing dan manfaat bagi pemegang saham.
Melansir laporan itu, pertumbuhan terjadi cukup mencolok di pasar modal sepanjang Januari hingga Desember 2025. Saham PT Krakatau Steel (KRAS) melonjak 243 persen, disusul PT Timah (TINS) yang tumbuh 221 persen dan PT Garuda Indonesia (GIAA) yang naik 187 persen.
Sementara untuk saham PT Telkom Indonesia (TLKM) menguat 30 persen dalam periode yang sama.
Selain emiten penerima injeksi, PT Aneka Tambang (ANTM) dan PT PP (PTPP) juga mencatat reli signifikan masing-masing 194 persen dan 189 persen.
BACA JUGA:
Danantara menilai capaian tersebut memperlihatkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap perusahaan pelat merah yang sedang menjalani restrukturisasi.
Laporan itu juga menunjukkan agenda reformasi Danantara belum berhenti. Fokus transformasi kini diarahkan pada Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), yaitu BRI, BNI, BTN, dan Bank Mandiri.
“Bank Rakyat Indonesia, Bank Mandiri, dan Bank Negara Indonesia semuanya berada pada posisi yang tepat untuk pemulihan pendapatan karena biaya kredit menurun dan pertumbuhan kredit membaik,” tulis laporan tersebut.