Bagikan:

JAKARTA – Danantara Indonesia menegaskan langkah agresif restrukturisasi BUMN akan menjadi salah satu fokus pada 2026. Melalui laporan Economic Outlook 2026, tim riset Danantara menilai penataan ulang perusahaan pelat merah merupakan strategi kunci untuk memulihkan persepsi pasar sekaligus menarik minat investor global.

Misalnya seperti yang dilakukan di PT Krakatau Steel (Persero) Tbk; PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk; PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk; dan serta sejumlah perusahaan pelat merah di sektor karya.

“Pemulihan pada kasus sulit, seperti maskapai, baja, dan konstruksi adalah tempat di mana kredibilitas dipertaruhkan. Jika restrukturisasi berhasil meningkatkan ritme operasional dan ketangguhan neraca, dampak terhadap persepsi investor bagi BUMN secara luas akan signifikan,” tulis laporan Danantara yang dikutip Selasa, 13 Januari.

Danantara menyebut intervensi negara saat ini berjalan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Nilai aset perusahaan pelat merah yang dikelola Danantara tercatat melampaui Rp1.000 triliun, atau lebih dari setengah produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

“Total aset BUMN secara kolektif mencapai lebih dari setengah PDB nominal Indonesia, yang berarti peningkatan operasional akan memiliki implikasi yang luas bagi prospek pertumbuhan negara,” tulis laporan itu.

Restrukturisasi tersebut tak hanya dilakukan melalui penyertaan modal, tetapi juga syarat ketat yang wajib dipenuhi emiten meliputi perampingan aset, peningkatan efisiensi, dan akuntabilitas manajemen.

“Peningkatan kapasitas operasional di dalam BUMN tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga mendorong persaingan yang lebih sehat, yang pada akhirnya berfungsi sebagai pelumas untuk pertumbuhan ekonomi yang lebih luas,” tulis Danantara.

Danantara menegaskan seluruh langkah restrukturisasi diawali dengan studi mendalam, guna memastikan dampak jangka panjang dan keberlanjutan bisnis. Peran negara pun dinilai semakin terukur.

“Dalam konteks pasar, pertanyaannya bukan lagi ‘akankah negara tetap terlibat? tentu saja akan. Fokus sekarang bergeser ke apakah keterlibatan tersebut menjadi lebih dapat diprediksi dan berdasarkan meritokrasi, dengan keputusan komersial yang didorong oleh kelangsungan bisnis jangka panjang daripada kepentingan jangka pendek,” ujarnya.

Danantara melihat pendekatan ini sebagai fondasi agar BUMN mampu bersaing tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga di arena global. Indikasi pemulihan mulai terlihat di pasar modal. Sejumlah saham BUMN strategis mencatat penguatan sepanjang 2025.

Harga PT Krakatau Steel (KRAS) tercatat meningkat 243 persen, PT Timah (TINS) naik 221 persen, sedangkan PT Garuda Indonesia (GIAA) bertambah 187 persen dan Telkom Indonesia (TLKM) menguat 30 persen.

Danantara juga menyertakan kinerja positif BUMN lain seperti PT Aneka Tambang (ANTM) yang melesat 194 persen, dan PT PP (PTPP) yang meningkat 189 persen.

“Sinyal harga awal dari PT Krakatau Steel, PT Garuda Indonesia, PT Timah, dan PT Telkom menunjukkan bahwa investor optimistis pada upaya pemulihan tersebut,” tulis laporan Danantara.