Bagikan:

JAKARTA - Anggota KPPU Hilman Pujana mengatakan pengusaha dan produsen beras bercerita sulit memasok beras premium ke pasar ritel modern karena harga eceran tertinggi (HET) yang berlaku di ritel modern.

“Nah ini tadi ada beberapa (produsen beras), curhat lah dari pelaku usaha di produsen kenapa mereka agak kesulitan untuk memasok, karena ada hambatan ini terkait dengan harga eceran tertinggi,” ujar Hilman di Kantor KPPU, Jakarta, Rabu, 28 Februari.

Hilman menjelaskan, HET beras di toko ritel modern saat ini tidak sesuai dengan biaya produksi yang juga meningkat.

Dengan biaya produksi yang naik, lanjutnya, maka harga jual beras premium ditaksir menjadi lebih tinggi dari HET.

“Jadi mereka enggak bisa suplai ke supermarket karena enggak masuk nih harga bahan gabahnya untuk mereka produksi sudah di atas Rp7.000 (per kilogram)," ucapnya.

“Jadi tentunya dengan produksi segala macam nanti akan nyampe di retail enggak bakal masuk dan pasti akan di atas HET gitu,” sambungnya.

Hilman mengatakan kepada KPPU, para produsen dan pemasok beras meminta adanya intervensi pemerintah melalui penyesuaian HET beras premium di toko ritel modern.

“Ini khusus yang premium, untuk yang modern market memang, seperti tadi yang disampaikan di dalam FGD tadi seperti itu mereka harapannya ada penyesuaian di HET,” ungkapnya.

Di sisi lain, Hilman bilang, berdasarkan pemetaan yang dilakukan KPPU, kelangkaan terjadi hanya di toko ritel moderen. Sedangkan, jumlah beras cukup banyak tersedia di pasar tradisional.

Hanya saja, sambung Hilman, meski pasokannya ada, namun harga beras yang ada di pasar tradisional terbilang tinggi.

“Kalau berdasarkan tadi informasi yang yang dikumpulkan di pasar tradisional masih tersedia stok, meskipun harganya memang mahal,” katanya.