Bagikan:

JAKARTA – Pemerintah terus mendorong peningkatan produktivitas gula dalam rangka mewujudkan swasembada gula nasional.

Salah satunya dengan memperkuat kolaborasi BUMN bersama petani tebu dalam program Makmur.

Adapun program ini meliputi aktivitas pendampingan budidaya, pemanfaatan teknologi, off take hasil panen, pendanaan, serta asuransi.

Direktur Utama ID FOOD Frans Marganda Tambunan mengatakan program ini bertujuan untuk mendukung peningkatan produktivitas petani tebu serta mengintegrasikan proses bisnis gula dari hulu hingga hilir.

“Kemarin Jumat, kita sudah lakukan panen dan tanam tebu program Makmur Kolaborasi ID FOOD dan Pupuk Indonesia. Kegiatan tersebut merupakan hasil dari pendampingan petani binaan program Makmur di lingkup PT PG Rajawali I unit Pabrik Gula (PG) Krebet Baru Malang,” kata Frans, di Jakarta, Minggu, 1 Oktober.

Sampai dengan Agustus 2023, kata Frans, luas lahan program Makmur di PG Krebet Baru telah terealisasi seluas 9.307 hektare (Ha) dan melibatkan 10.967 petani.

Dalam program ini, sambung dia, ID FOOD melalui anak perusahaannya PT PG Rajawali I dan Pupuk Indonesia melalui PT Petro Kimia Gresik bersinergi melakukan pendampingan penanaman tebu di sejumlah wilayah di provinsi Jawa Timur.

Adapun penanaman dilakukan di lokasi yang merupakan lingkup dari PT PG Rajawali I yaitu PG Rejo Agung Baru di Madiun dan PG Krebet Baru di Malang, serta PG Candi Baru di Sidoarjo.

“Skala paling besar kita jalankan di PG Krebet Baru Malang. Sedangkan untuk PG Rejo Agung Madiun, luas tanam telah terealisasi seluas 3.402 Ha dengan partisipasi petani sebanyak 828 orang dan di PG Candi Baru Sidoarjo telah dilaksanakan di lahan seluas 251 Ha melibatkan 25 petani,” ujarnya.

“Sehingga secara total untuk wilayah Jawa Timur kita telah jalankan program pendampingan budidaya tebu petani Makmur di lahan seluas 12.960 Ha dengan partisipasi 11.820 petani tebu,” sambungnya.

Secara keseluruhan untuk komoditas tebu, sejak Januari sampai 21 September 2023, ID FOOD telah merealisasikan tanam seluas 19.049 Ha.

Jumlah tersebut merupakan penggabungan dari realisasi di wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur.

“Realisasi tanam tebu ID FOOD sampai 21 September 2023 meningkat atau sudah melampaui realisasi tanam tahun 2022 sebesar 12.691 Ha,” terangnya.

Menurut Frans, program Makmur telah memberikan dampak dan manfaat positif bagi produktivitas dan pendapatan mitra petani tebu.

Hal tersebut dapat dilihat dari peningkatan produktivitas sebelum dan sesudah penerapan Makmur, di mana hasil demplot PT PG Rajawali I dan Petro kimia Gresik menunjukkan kenaikan produktivitas 9,4 persen, dari 1.024 Kuintal (Ku) per Ha menjadi 1.120 Ku per Ha.

Dari sisi pendapatan, hasil demplot juga berkontribusi pada kenaikan pendapatan sebesar 9,4 persen atau dari Rp96 juta per Ha menjadi Rp105 juta per Ha.

“Diharapkan, kehadiran program ini secara bertahap menumbuhkan kepercayaan dan minat masyarakat menanam tebu,” jelasnya.

Lebih lanjut, Frans menjelaskan, dalam sinergi program Makmur ini, ID FOOD melalui anak perusahaannya yang bergerak di industri gula berperan sebagai pengawas dan pendamping proses budidaya tebu serta off taker hasil panen.

Selain itu, ID FOOD juga melakukan kerja sama dengan asosiasi dan koperasi sebagai wadah bagi kelompok tani, serta sektor perbankan untuk aspek pendanaan.

Sedangkan, Pupuk Indonesia melalui Petro Kimia Gresik melakukan penyediaan pupuk berkualitas serta kegiatan lainnya, seperti analisis tanah, konsultasi teknologi pemupukan, pengendalian hama dan penyakit tanaman, serta sosialisasi pemupukan berimbang.

Frans mengungkapkan, program ini akan terus dikawal dan ditingkatkan skalanya. Pada tahun 2023 ini luas tanam tebu Makmur secara nasional ditargetkan sebesar 112.631 Ha.

Jumlah ini menjadi yang tertinggi dibandingkan komoditas lain seperti padi, jagung, kelapa sawit, dan kopi.

“Program ini merupakan bentuk close loop industri gula yang mengintegrasikan rantai pasok dari hulu sampai hilir. Kami optimis, terus tumbuhnya pelaksanaan program Makmur di sektor industri gula dapat mendukung penguatan ekosistem gula nasional. Hal ini sebagai bentuk dukungan BUMN terhadap percepatan swasembada gula nasional, serta untuk mewujudkan inklusifitas petani tebu,” tutur Frans.