Bagikan:

JAKARTA - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berpeluang mengincar level 7.100 pada hari ini, Senin 31 Oktober.

CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas William Surya Wijaya menjelaskan perkembangan pergerakan IHSG masih terlihat betah berada dalam area konsolidasi wajar, sedangkan potensi tekanan masih cukup besar dibandingkan dengan kemampuan naik.

"Namun, sentimen belum terlalu terlihat ada yang menonjol untuk dapat menjadi booster terhadap pola gerak IHSG hingga beberapa waktu mendatang. Momentum koreksi wajar masih dapat dimanfaatkan oleh investor untuk melakukan akumulasi pembelian, dengan target investasi jangka panjang," ujarnya dalam riset.

Pergerakan IHSG diperkirakan berada pada rentang 6.954-7.172. Adapun, rekomendasi saham versi William adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Telekomunikasi Indonesia Persero Tbk (TLKM), PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk (BBRI).

Kemudian PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), dan PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI).

Selama sepekan lalu (24-28 Oktober 2022), pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut meningkat 0,55 persen pada level 7.056,040 dari 7.017,771 sepekan sebelumnya. Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia Yulianto Aji Sadono menjelaskan data perdagangan BEI selama periode 24 sampai dengan 28 Oktober 2022 ditutup bervariasi.

Peningkatan terjadi pada rata-rata frekuensi transaksi harian Bursa mengalami kenaikan sebesar 0,99 persen menjadi 1.219.787 transaksi selama sepekan dari 1.207.882 transaksi pada pekan sebelumnya.

"Kapitalisasi pasar Bursa mengalami kenaikan 0,57 persen menjadi Rp9.368,322 triliun dari Rp9.315,213 triliun pada pekan sebelumnya," katanya dalam keterangan tertulis.

Kemudian, rata-rata volume transaksi Bursa berubah 3,79 persen menjadi 22,052 miliar saham dari 22,921 miliar saham. Rata-rata nilai transaksi harian Bursa mengalami perubahan 5,55 persen menjadi Rp13,011 triliun dari Rp13,776 triliun.