Harta Karun Baru Indonesia, 'Emas Hijau' Punya Potensi Ekspor ke 196 Negara
Ilustrasi (Foto: Dok. Antara)

Bagikan:

JAKARTA – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) disebutkan terus memperkuat komitmen dalam mengoptimalkan pemanfaatan ‘emas hijau’ atau rumput laut dari perairan Indonesia.

Plt. Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Ishartini mengatakan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan rumput laut bisa diolah menjadi beragam produk bernilai tambah yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

Menurut dia, secara garis besar produk turunan rumput laut dapat dikelompokkan menjadi 5P, yakni pangan, pakan, pupuk, produk kosmetik, dan produk parmasi.

"Sejumlah penelitian juga menyebutkan bahwa rumput laut dapat digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan bahan bakar atau biofuel, sehingga dapat menjadi salah satu alternatif solusi krisis energi yang banyak dikhawatirkan di masa datang," ujarnya seperti yang dilansir laman resmi pada Minggu, 9 Oktober.

Ishartini menjelaskan, Indonesia berpotensi besar sebagai pemain rumput laut dunia terlebih jika didukung oleh kebijakan yang holistik dari hulu hingga ke hilir.

"Tercatat 196 negara di dunia menjadi pengimpor komoditas ini. Tentu ini menunjukkan betapa pentingnya produk rumput laut dalam perdagangan internasional," tuturnya.

Ishartini menambahkan, ratusan jenis rumput laut dapat tumbuh dengan baik di wilayah Indonesia dan sangat mungkin untuk diolah sebagai food, health, pharmaceuticals, sustainable materials, cosmetics, biostimulant, dan fertilizer.

Selain itu, penggunaan produk turunan rumput laut juga dikembangkan sebagai bahan pembantu pembuatan produk industri pangan (es krim, roti, susu, sosis, edible film pada buah-buahan, minuman instan,) maupun nonpangan (cat, tekstil, farmasi, kosmetik, dan sebagainya).

"Sejalan dengan ini, KKP di bawah arahan Bapak Menteri Trenggono juga telah memasukkan rumput laut sebagai komoditas budidaya prioritas," tegas dia.

Oleh sebab itu Ishartini menyatakan pemerintah siap mendukung hilirisasi ‘emas hijau’ ini untuk senantiasa memenuhi standar pengolahan yang bisa mendatangkan manfaat ekonomi.

Untuk diketahui, Indonesia tercatat sebagai negara eksportir rumput laut terbesar di dunia. Hal itu tercermin dari volume perdagangan 2021 yang mencapai lebih dari 225.000 ton atau setara 30 persen dari total keseluruhan perdagangan rumput laut global.

Akan tetapi secara nilai RI hanya menempati urutan kedua setelah China dengan nilai sebesar 345 juta dolar AS atau Rp5 triliun.

“Perlu dilakukan market intelligence untuk mengetahui jenis produk rumput laut yang dibutuhkan, baik untuk kebutuhan pasar internasional maupun domestik. Di sisi lain, terjadi persaingan ketat untuk perolehan bahan baku antara eksportir rumput laut kering dengan para processor (industri pengolahan) di dalam negeri. Oleh karena itu, data dan informasi sangat penting sebagai referensi kebijakan untuk mengatur pemasaran rumput laut," tutup Ishartini.