Menelusuri Kutipan Soekarno 'Lebih Suka Pemuda Ngopi daripada Kutu Buku' yang Tak Jelas Dari Mana
Bung Karno saat kunjungan ke Athena tanggal 9 Juli 1965 bersama Trio Greco (Sumber: Spaarnestad Archive)

Bagikan:

JAKARTA - “Saya jadi ingat pesan Bung Karno tentang pentingnya menjaga kehidupan sosial. Menurut Bung Karno, 'Pemuda yang kumpul-kumpul sambil diskusi tentang bangsa dan negara, itu jauh lebih baik dibanding pemuda kutu buku yang hanya memikirkan diri sendiri.'”

Demikian wejangan yang disampaikan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang tayang di kanal YouTubenya berjudul Ruang Ganjar: Jihad Sosmed Melawan Teror. Sepintas tiada yang salah dengan mengutip ucapan Bung Karno. Namun kutipan ini menarik karena banyak diragukan, apakah benar Bung Karno pernah mengatakan atau menggores pena tentang itu?

Kita tahu, Putra sang Fajar dalam tiap kesempatan selalu bangga menyebut dirinya sebagai pecinta: seni, wanita, dan buku. Video itu diunggah Ganjar Pranowo pada 19 April telah ditonton lebih dari 100 ribu orang. Di dalam videonya, Ganjar banyak membahas mengenai bentuk-bentuk teror model baru dan indahnya toleransi.

Demi menguatkan narasi, Ganjar mengutip tiga tokoh nasional: Mustofa Bisri (Gus Mus), Buya Syafii Ma’arif, dan Bung Karno. Tapi cuplikan Ganjar mengutip Bung Karno yang banyak seliweran di media sosial. Ucapan ganjar seolah-olah membenarkan Bung Karno pernah berucap itu. Ganjar bukan satu-satunya.

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), yang dipimpin Megawati Soekarnoputri, anak Bung Karno juga sempat mengutip kata-kata terkait rokok, kopi, dan diskusi di media sosialnya. Padahal tidak ada sumber valid yang mengungkap kata tersebut benar terucap dari Bung Karno.

Lagipula ucapan itu tidak ada dalam pidato, wawancara ataupun buku-buku yang memuat kisah hidup Bung Karno. Penelusuran soal darimana kutipan itu berasal mengarah ke unggahan Instagram @Hexogram yang dipublikasi pada 17 Agustus 2020.

Kalaupun ada ketidaksukaan Bung Karno pada pembaca buku atau kutu buku, itupun kepada mereka yang menelan mentah-mentah teori dalam buku. Kritik itu bahkan diberikan Bung Karno kepada teman seperjuangannya, Bung Hatta. Bukan secara umum pada pemuda.

Hatta yang lulusan Fakultas Ekonomi di Rotterdam cara pikirnya terlalu kaku di mata Bung Karno. Pemikirannya sering membawa narasi menurut buku-buku dan belum dapat diubah ke dalam hal yang lebih mudah dicerna. Semisal soal pandangannya untuk memompa semangat revolusi.

“Dengan cara Bung Karno, partai tidak akan bisa stabil, Hatta mengemukakan, seorang yang berlainan sama sekali denganku dalam sifat dan pembawaan. Bung Hatta adalah seorang ahli ekonomi dalam segi dagang dan pembawaannya. Saksama, tidak dipengaruhi oleh perasaan, pedantik."

Soekarno (Sumber: Wikimedia Commons)

Seorang lulusan Fakultas Ekonomi di Rotterdam, cara berpikirnya masih saja menurut buku‐buku, mencoba menerapkan rumus‐rumus ilmiah yang tidak dapat dirubah ke dalam suatu revolusi,”ungkap Bung Karno sebagaimana yang ditulis Cindy Adams dalam otobiografinya Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1964).

Meski begitu, bukan berarti Bung Karno benci dengan kutu buku. Apalagi benci Bung Hatta. Perbedaan pandangan antara Soekarno dan Hatta itu hanya bentuk perbedaan corak gerakan semata. Pun keduanya memang sering berselisih paham.

Dalam keseharian Bung Karno, ia tergolong kutu buku. Ia sendiri selalu mengamalkan bahkan mengajak anak-anak muda penerus bangsa untuk selalu membaca buku. Termasuk amanat yang disampaikannya di depan wartawan dalam acara ramah-tamah di Istana Bogor, 20 November 1965.

“Bukan buku dan majalah itu di lemari, saudara-saudara, di tempat tidur saya. Saya tidur di antara buku dan di antara majalah-majalah. Karena saya anggap penting selalu membaca, selalu membaca, selalu membaca, meskipun saya telah katakan mempunyai, mengetahui ilmu pengetahuan sedikit-sedikit, meskipun saya telah diberi gelar Doctor Honoris Causa 27 kali oleh universitas-universitas. Membaca, belajar itu tidak ada batas usia. Meskipun kita telah jambul wanen, sudah tua, belajar dan membaca selalu bermanfaat,” terang Bung Karno.

Bung Karno si kutu buku

Soekarno kecil (Sumber: Commons Wikimedia)

Kesukaan Bung Karno pada buku bukan rahasia. Sejak kecil, Bung Karno telah terbiasa membaca buku. Bapak Bung Karno, Raden Soekemi Sosrodihardjo yang aktif sebagai anggota perkumpulan Theosofi jadi muaranya. Berkat hak istimewa itu, Soekarno tak saja membaca buku koleksi orang tuanya, tapi ia dapat mengakses sebuah perpustaan besar miliki kaum Theosofi dengan bebas. Buku-buku diperpustakaan theosofi itu laksana peti harta karun baginya.

Kecintaannya kepada buku-buku berlanjut hingga Soekarno masuk Hoogere Burgerschool (HBS) di Surabaya. Kala anak-anak lain bermain, Soekarno banyak menghabiskan waktunya belajar dengan membaca buku-buku. Lewat buku-buku, Soekarno mengejar pengetahuan luar sekolah. Pun sepulang ke rumah Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, Soekarno dapat mengakses dengan bebas seluruh koleksi buku tokoh Sarekat Islam.

“Oemar Said Tjokroaminoto berumur 33 tahun ketika aku datang ke Surabaya. Pak Tjokro mengajarku tentang apa dan siapa dia, bukan tentang apa yang ia ketahui ataupun tentang apa jadiku kelak. Seorang tokoh yang mempunyai daya cipta dan cita‐cita tinggi, seorang pejuang yang mencintai tanah tumpah darahnya. Pak Tjokro adalah pujaanku. Aku muridnya. Secara sadar atau tidak sadar ia menggemblengku. Aku duduk dekat kakinya dan diberikannya kepadaku buku‐bukunya, diberikannya padaku miliknya yang berharga,” cerita Soekarno disampaikan kepada Cindy Adams.

Buku juga menjadi satu-satunya harta kekayaan Soekarno ketika menjalani hari-hari di pengasingannya di Ende (1934-1939), kemudian Bengkulu (1938-1942). Tercatat, koleksi buku Bung Karno mencapai seribu lebih. Bung Karno tak meninggalkan satupun buku di pengasingan. Selepas diasingkan, seluruh buku ia bawa kembali ke Jakarta.

"Dalam koleksi bukunya itu terdapat buku-buku yang membicarakan fasisme serta cara-cara mengalahkannya. Misalnya, tulisan Willy Munzenberg yang berjudul 'Propaganda als Waffe', atau karangan Ernst HenDry yang berjudul 'Hitler Over Rusia'. Koleksi buku Soekarno yang sedemikian banyak disertai perenungan yang dalam mengantarkannya untuk merumuskan dasar negara," ungkap Peter Kasenda dalam buku Bung Karno Panglima Revolusi (2014).

*Baca Informasi lain soal SEJARAH atau baca tulisan menarik lain dari Yudhistira Mahabharata.

 

BERNAS Lainnya