Ketika Budaya Ganja di Kalangan Peretas Bikin FBI Kesulitan Rekrut Mereka
Ilustrasi foto (Sumber: Commons Wikimedia)

Bagikan:

JAKARTA - Budaya ganja di Amerika Serikat (AS) berdampak hingga ke Federal Bureau of Investigation (FBI). FBI konon kesulitan merekrut peretas andal karena kebanyakan dari mereka adalah pengonsumsi ganja.

Menjadi jagoan teknologi dengan tradisi merokok ganja. Episode Sillicon Valley nampak diadaptasi dari budaya nyata. Apa hubungannya dengan perekrutan FBI?

Peretasan adalah keterampilan yang diminati, terutama di era privasi digital. Keterampilan ini bisa membawa seseorang masuk ke perusahaan-perusahaan papan atas, yang tentunya akan mengabaikan kebiasaan mengganja.

Tapi tidak bagi FBI, yang menyaratkan rekrutannya tak mengonsumsi ganja selama tiga tahun ke belakang. Hal ini jadi dilema sebab FBI menyatakan hari ini mereka membutuhkan lebih banyak bakat peretas daripada sebelumnya.

Dikutip NY Daily News, kebijakan itu telah lama diterapkan. Bahkan dalam aturan itu disebut 'masa tunggu' yang tiga tahun akan menjadi sepuluh tahun ketika seseorang terbukti menggunakan kokain atau ekstasi.

Kebutuhan peretas

FBI, dihadapkan pada pilihan mereformasi kebijakan ini atau tidak. AS sendiri telah melegalkan ganja di delapan negara bagian plus Distrik Columbia. Khusus ganja medis, legalisasi ditetapkan di 30 negara bagian plus DC.

Kebijakan ini tidak merugikan para peretas. Justru banyak analis yang melihat kebijakan ini berpotensi membahayakan keamanan dunia maya dalam negeri.

Pada 2014 lalu, Direktur FBI James Comey sempat menyoroti kebijakan ini. "Mereka harus melanjutkan dan melamar," katanya mengomentari kendala yang dialami FBI dalam perekrutan peretas pengguna ganja, ditulis BBC.

*Baca Informasi lain soal GANJA atau baca tulisan menarik lain dari Detha Arya Tifada.

 

BERNAS Lainnya