Cara Instagram Lindungi Kepentingan Israel: Sensor Agresi Zionis dan Kaitkan Al Aqsa dengan Teroris
Seorang warga Palestina beribadah di tengah kepungan tentara Israel (Sumber: Reuters via Antara)

Bagikan:

JAKARTA - Instagram dan Facebook disoroti karena sensor yang mereka berlakukan terhadap konten agresi Israel di Palestina. Lebih parah lagi, penyensoran itu terjadi karena platform mengaitkan tagar "Al Aqsa" sebagai salah satu organisasi teroris. Pengelola platform menjelaskan hal-hal itu terjadi karena kesalahan sistem moderasi konten mereka. Benarkah?

Dikabarkan sebelumnya Instagram menghapus unggahan dan memblokir tagar yang berkaitan dengan Al Aqsa --salah satu masjid paling suci bagi umat Islam-- dan mengaitkannya dengan sebutan perusahaan untuk organisasi teroris. Itu diakui sebagai kesalahan moderasi konten terbaru oleh Instagram dan perusahaan induknya, Facebook.

BuzzFeed News memperoleh informasi itu dari komunikasi internal seorang karyawan. Kesalahan itu konon juga memancing keriuhan di dalam tubuh Facebook. Banyak karyawan yang merasa marah. Al Aqsa, sejak beberapa hari lalu jadi salah satu titik awal kekerasan yang dilakukan Israel. Masjid itu bahkan sempat dilempari granat. Sebuah pohon di kompleks masjid terbakar.

Sebagai pemancing perhatian, pengguna Instagram mengunggah konten dengan tagar #AlAqsa atau #الاقصى atau #الأقصى. Menyadari banyak konten yang hilang, para pengguna mengunggah ulang konten dengan penyematan tagar di atas untuk mengetahui apakah Instagram betul-betul menghapus atau menyembunyikan konten mereka.

Hasilnya, beberapa notifikasi menunjukkan Instagram menghapus unggahan-unggahan itu dengan pemberitahuan bahwa konten terkait dengan "organisasi kekerasan atau berbahaya". Dalam sebuah kasus, seorang karyawan melihat Instagram juga menghapus infografik yang menggambarkan situasi Al Aqsa untuk alasan yang sama.

"Kedua kesalahan ini dan banyak lagi lainnya sama sekali tidak dapat diterima," tulis seorang karyawan Facebook itu di platform komunikasi internal pada Selasa, 11 Mei lalu. "Al-Aqsa adalah situs tersuci ketiga dalam Islam dan merupakan aspek sentral dari keyakinan bagi sekitar 1,8 miliar orang," tambah si karyawan.

Mempertanyakan sikap Facebook

Ilustrasi foto (Sumber: Commons Wikimedia)

Sensor Facebook terhadap konten-konten tentang Al Aqsa terjadi selama ketegangan dan kekerasan ekstrem di kawasan tersebut. Banyak karyawan dan pengamat yang mengkritisi kegagalan moderasi konten itu sebagai bukti kurangnya pemahaman perusahaan-perusahaan Amerika Serikat (AS) terhadap persoalan antara Israel-Palestina.

Perusahaan yang didirikan Mark Zuckerberg diminta memperbaiki sistem dan meminta maaf karena kecerobohan yang berdampak besar, mengingat produknya digunakan oleh lebih dari 3 miliar orang di dunia. Facebook sebelumnya telah mengatakan kepada outlet berita Timur Tengah, The National bahwa terjadi kesalahan soal konten bertagar Al Aqsha.

Facebook juga menjelaskan lebih jauh bahwa konten itu dihapus karena Al Aqsa "adalah juga nama organisasi yang diberi sanksi oleh pemerintah AS." Seorang juru bicara Facebook menolak berkomentar di luar komunikasi di platform internal perusahaan yang beredar. Penyensoran ini bukan terjadi baru-baru.

Seorang warga Palestina beribadah di tengah kepungan polisi Israel (Sumber: Reuters via Antara)

Pekan lalu, pengguna Instagram di Palestina juga mengeluhkan unggahan Instagram Stories mereka yang dihapus sebelum 24 jam. Facebook kala itu mengatakan kesalahan itu terjadi karena bug. Penghapusan pekan lalu itulah yang memicu kritisme para karyawan internal Facebook. Sebagian karyawan melakukan refleksi dan penyelidikan kecil-kecilan.

“Beberapa dari insiden tersebut adalah kesalahan tinjauan manusia dan yang lainnya otomatis dan saya tidak tahu mana yang lebih umum, tetapi mengapa pembuat keputusan tidak dapat menggunakan keahlian lokal di wilayah (Timur Tengah dan Afrika Utara) seperti Kebijakan Publik atau Komunikasi dan berkonsultasi dengan mereka sebelum mengambil keputusan untuk menghapus hashtag sensitif atau konten politik,” tulis seorang karyawan.

Karyawan itu kemudian membagikan tangkapan layar dari banyaknya pengguna yang mengeluhkan sensor dalam unggahan Instagram mereka. Mereka juga mencatat pengguna Instagram di seluruh dunia telah memulai kampanye untuk memberikan peringkat yang buruk pada aplikasi Instagram di Google Play Store.

Cap terorisme untuk Al Aqsa

Masjid Al Aqsa (Sumber: Commons Wikimedia)

Wakil Presiden Integritas Facebook Guy Rosen menulis penjelasan tentang situasi yang terjadi. Ia mengatakan, Facebook memiliki tim yang "menyortir dan membuka blokir masalah apa pun yang muncul." Meski begitu Guy menjelaskan upaya itu tak mencegah penghapusan konten tentang Masjid Al Aqsa.

Seorang karyawan Facebook mengkritisi cap terorisme untuk Al Aqsa. Ada beberapa organisasi yang dicap sebagai entitas teroris oleh AS dan Uni Eropa, seperti Brigade Martir Al Aqsa yang merupakan koalisi bersenjata Palestina di Tepi Barat. Atau Al Aqsa Foundation yang dianggap jaringan pendukung kelompok bersenjata.

Namun itu tak membuat alasan penghapusan konten jadi masuk akal. "Jika ada kelompok yang ditunjuk yang disebut pembuat onar Washington dan unggahan yang hanya menyebutkan kata Washington akan dihapus, itu sama sekali tidak dapat diterima."

“Saya benar-benar ingin menekankan bahwa bagian dari basis pengguna kami ini sudah terasa terasing dan disensor dan setelah mengalami begitu banyak masalah seperti ini --baik itu berbasis teknis atau produk-- pengguna kami tidak akan memberikan keuntungan dari keraguan.”

Seorang juru bicara Facebook yang bersedia bicara kepada BuzzFeed News menolak tuduhan Facebook disetir pemerintah. Katanya tak ada permintaan semacam itu. Hal ini terjadi karena kesalahan manusia. Titik. Ashraf Zeitoon, yang menjabat Kepala Kebijakan Facebook untuk Wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara (2014-2017) mengkritisi.

Facebook, dikatakannya mempekerjakan beberapa pakar terorisme top dunia yang pasti dapat membedakan penyebutan Al-Aqsa dari Brigade Syuhada Al-Aqsa. Maka, alasan kesalahan manusia hampir mustahil. Zeitoon juga menyebut penghapusan konten itu dilakukan karena Facebook khawatir kepentingan Israel terganggu.

"Bagi mereka untuk pergi dan mengidentifikasi satu kata dari nama dua kata yang dikaitkan dengan organisasi teroris adalah alasan yang lemah ... Mereka lebih berkualitas dari ini dan lebih kompeten dari ini.”

*Baca Informasi lain soal ISRAEL-PALESTINA atau baca tulisan menarik lain Yudhistira Mahabharata.

 

BERNAS Lainnya