Pandemi Bikin Kita Makin 'Kepo' pada Hidup Orang Lain, Penelitian Menjelaskannya
Ilustrasi foto (Charles Deluvio/Unsplash)

Bagikan:

JAKARTA - Sebuah kesadaran umum bahwa manusia adalah makhluk yang dipenuhi keingintahuan. Namun pandemi telah meningkatkan level rasa ingin tahu --yang juga biasa disebut kepo-- itu.

Sebuah penelitian mengungkap kenapa kita tak bisa melepaskan diri dari kebiasaan mengintip hidup orang lain. Dan ini mungkin bukan sekadar kebiasaan usil.

Dosen senior Brunel University London, Anne Chappell menjelaskan, diri kita terbentuk dari kehidupan dan kisah orang lain yang kita temukan. Baru-baru ini Chappell meneliti perilaku bersama profesor asosiasi dari Universitas Plymouth, Julie Parsons.

Namun, dorongan ini tak selalu pertanda buruk. Mengamati orang lain dapat membantu kita menyesuaikan diri dengan pandemi.

Ilustrasi foto (Angela Franklin/Unsplash)

Situs berita telah berkembang pesat, menyajikan pemikiran-pemikiran. Pun media sosial, yang tak hanya berisi pemikiran orang lain, tapi juga esai foto yang menambah dimensi dan perspektif kita terhadap manusia hari ini.

Dan setiap media sosial menawarkan cara masing-masing untuk mengamati orang lain. Apapun itu, baik Facebook, Instagram, Snapchat, TikTok, bahkan Clubhouse. Hari ini, mengintip orang lain adalah kebutuhan untuk seseorang memahami dunia sekitarnya.

Pertukaran informasi

Dorongan untuk mengamati orang lain nyatanya terkait dengan kebutuhan kita bertukar informasi. Kebiasaan mengamati orang lain memancing kita untuk mengekspos diri kita lewat unggahan media sosial.

Bentuknya macam-macam. Bisa pemikiran, keseharian, atau menunjukkan kesukaan-kesukaan kita. Dari situlah pertukaran informasi terjadi. Kadang secara tak sadar.

“Semua cerita yang kita temui secara langsung dengan orang lain, dan yang kita baca, lihat, dengar, dan libatkan, semuanya memiliki pengaruh dalam membentuk pemahaman bersama kita tentang masyarakat,” kata Chappell.

“Dengan meningkatnya isolasi sosial selama pandemi, kita jadi lebih ingin tahu dan tertarik pada kehidupan orang-orang di sekitar kami”, kata Sabrina Romanoff, psikolog klinis di Rumah Sakit Lenox Hill Kota New York.

Meski interaksi ini mungkin tak memuaskan seperti pertemuan di kehidupan nyata, media sosial adalah salah satu dari sedikit cara yang tersisa untuk terhubung secara spontan dengan manusia lain.

*Baca Informasi lain soal MEDIA SOSIAL atau baca tulisan menarik lain dari Putri Ainur Islam.

 

BERNAS Lainnya