Terkenal Mematikan! Berikut Senjata Adat NTT dan Penjelasannya
Proses pembuatan parang di Manggarai NTT. (Foto- Youtube)

Bagikan:

JAKARTA – Senjata adat adalah salah satu warisan kebudayaan Nusantara yang harus dilestarikan dan dipelajari nilai sejarahnya. Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki kekayaan budaya dan seni.

Salah satu warisan budaya NTT yang kini masih dipertahankan masyarakatnya adalah seni pembuatan senjata adat.

Berdasarkan arsip Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, VOI merinci beberapa senjata adat NTT yang kini masih diproduksi dan digunakan oleh penduduk NTT.

Macam-macam senjata tradisional NTT

1. Senjata untuk menyerang

Terdapat beberapa senjata yang tersebut di Kabupaten Flores Timur. Pertama senjata untuk menyerang di antaranya parang, tombak, dan panah.

Sementara itu, Kabupaten Belu memiliki beberapa senjata tradisional di antaranya panahan, kelewang, dan sumpit yang digunakan untuk menyerang.

2. Senjata bertahan

Selain senjata untuk menyerang terdapat senjata untuk bela diri atau bertahan dari serangan yaitu berupa perisai atau tameng.

3. Senjata otomatis

Senjata otomatis masyarakat NTT berarti senjata yang bergerak di antaranya senjata otomatis masyarakat Flores Timur seperti witu, notu munak, belawat tutung, dan belebet.

Selain itu, masyarakat Kabupaten Belu juga memiliki senjata yang bergerak sendiri seperti fetik, dia tete, dan dia sura.

Penggunaan parang Flores bagi masyarakat Suku Lamaholot NTT

Parang adalah senjata yang umum digunakan masyarakat NTT. Suku Lamaholot, Kabupaten Flores Timur adalah salah satu yang menggunakan parang secara turun-temurun dan mereka biasa menyebutnya sebagai “peda” atau “kenube”.

Parang Khas Flores. (Foto- Youtube)

Akan tetapi pembuatan parang untuk berperang masyarakat NTT tidak boleh sembarangan dilakukan, hanya orang-orang terpilih yang dapat membuatnya. Kemudian bahan baku pembuatan parang biasa dari besi baja atau besi tua yang berasal dari bengkel-bengkel yang memiliki mutu lebih baik lantaran memiliki kandungan baja tertinggi.

Parang Flores melalui proses sepuh

Sama halnya keris di Jawa, pembuatan parang Flores melalui tahapan penyepuhan atau disebut sebagai “Hewok”. Adapun tujuan penyepuhan parang adalah untuk mendapatkan pamor (motif parang) dan membuat parah tahan lama dan tidak mudah tumpul atau patah.

Proses pembuatan parang di Manggarai NTT. (Foto- Youtube)

Setelah melalui proses penyepuhan, parang dinyatakan selesai dan siap digunakan. Khusus untuk senjata perang, Parang Flores memiliki dua jenis yaitu “Peda Titi Taran” dan “Kenube Darupa”.

Perbedaan parang Flores Timur dapat dilihat dari cincin-cincin yang terdapat pada gagangnya. Peda Witi Taran ditandari dengan gagang parang yang seluruhnya memakai cincin tanduk kambing—jenis ini memiliki harga yang cukup mahal.

Sementara itu parang kenube darupa memiliki cincin parang terbuat dari besi dan bagian lain dari gagang terbuat dari lapisan tanduk kambing. Janis parang tersebut memiliki harga yang lebih murah.

Rama Moruk, panah beracun dari NTT

Selain parang, penggunaan panah beracun masih sangat umum digunakan masyarakat pedesaan di Pulau Timor, khususnya Desa Kateri, Kabupaten Belu NTT. Salah satu panah yang populer adalah Rama Moruk.

Rama Moruk merupakan panah beracun yang berbentuk kecil dan ringan. Biasanya senjata tradisional tersebut digunakan untuk berburu kera dan tidak jarang untuk berperang.

Kekuatan Rama Moruk ada pada zat racun yang terletak pada bagian mata panahnya. Selain itu, kekuatan senjata tersebut juga diyakini berasal dari mantera-mantera yang diberikan dalam upacara adat.

Berbagai jenis senjata panah tradisional NTT. (Gambar- Kemdikbud)

Masyarakat NTT yakin jika mantera dalam upacara adat dapat mempermudah perburuan atau perang. Rama Moruk yang sudah diberikan mantera khusus biasanya akan cepat mencari sasaran dan meracuni target.

Adapun rangkaian upacara adat setelah pemilik Rama Moruk menerima racun adalah melakukan upacara “Tate Pos” atau persembahan beras yang dilakukan di tempat keramat. Upacara tersebut bertujuan untuk memberitahukan kepada roh-roh tentang maksud penggunaan Rama Moruk.

Tombak bagi Suku Lamaholot dan ritual senjata yang religius

Tombak adalah senjata adat masyarakat Lamaholot di Kabupaten Flores Timur NTT yang memiliki berbagai tujuan penggunaan. Selain untuk berburu, tombak juga selalu digunakan sebelum berperang.

Upacara adat Reba Ngada Flores. (Foto- Twtter)

Akan tetapi terdapat ritual atau upacara adat tertentu yang dikhususkan agar tombak efektif digunakan ketika perang. Adapun tujuan upacara tersebut adalah agar memohon kepada leluhur agar penggunanya selamat di medan perang.

Selain untuk perang, tombak bagi masyarakat Suku Lamaholot NTT juga dimanfaatkan untuk berburu dan menjaga ladang dari babi hutan atau rusa.

Pemanfaatan senjata tradisional panahan bagi masyarakat NTT

Sementara itu, pemanfaatan senjata panahan dan busur di NTT beragam mulai dari berburu binatang hutan, menjaga kebun atau ladang dari gangguan hewan hutan, hingga untuk perang.

Perang biasanya dilakukan apabila terdapat bahaya yang mengancam penduduk adat atau ketika ada sengketa persoalan tanah. Senjata panahan biasanya melalui ritual upacara terlebih dahulu sebelum digunakan di medan perang. Adapun tujuan upacara tersebut adalah agar penggunanya kebal dan senjata menjadi efektif menyerang musuh.

Tempat upacara adat masyarakat NTT

Masyarakat NTT biasa melakukan upacara adat khususnya untuk bertujuan memperkuat senjata di Koke yang merupakan sebuah menhir.

Koke juga biasa disebut sebagai “Nubanara Beliwan Laran”, yang berarti “Nubanara” (batu pujaan), “Beliwan” (perang), dan “Laran” (jalan).  Menhir tersebut dianggap sebagai lambang dari dewa perang.

Masyarakat Desa Lewokeluok yakin jika di dalam Koke terdapat Dewa Perang yang menjadi pusat kekuatan atas kampungnya. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai “Ike Kewaat Lewo”.

*Selain senjata adat NTT dan penjelasannya, ikuti berita dalam dan luar negeri lainnya hanya di VOI, Waktunya Merevolusi Pemberitaan!

 

BERNAS Lainnya