Hidup Lee Wong Penuh Diskriminasi sebelum Bungkam 'Asian Hate' dengan Luka Perang di Dadanya
Lee Wong dalam pertemuan dewan (Sumber: Wamc.org)

Bagikan:

JAKARTA - Nama Lee Wong, seorang politikus Ohio, Amerika Serikat (AS) jadi sorotan dunia setelah membungkam 'Asian Hate' dengan menunjukkan luka perang di dadanya. Siapa Lee Wong? Bagaimana ia menjalani kehidupan berat sebagai orang Asia di AS? VOI merangkum sejumlah fakta tentang sosok Lee Wong.

Melansir NPR, Lee Wong telah menetap di AS sejak lulus SMA, kala usianya 18 tahun. Lee Wong kemudian menjadi mahasiswa di medio 1970-an.

Lee Wong kerap mengalami serangan rasial dan diskriminasi menyangkut sentimen anti-Asia di AS. Lee Wong pernah berkali-kali ditolak saat mengajukan lamaran menjadi polisi.

Tak cuma ditolak. Ia juga jadi bahan cemoohan para petugas yang menyebutnya "Chinaman". Melepas keinginan jadi polisi, Lee Wong kemudian mendaftar ke Angkatan Darat. Ia diterima. Di Angkatan Darat, Lee Wong menjalani pengabdian selama 20 tahun.

Lee Wong kemudian menjadi pria China yang berhasil jadi pemimpin di West Chester, pinggiran kota besar Cincinnati, Negara Bagian Ohio, AS. Dalam wawancara bersama China Daily pada 2018, Lee Wong menceritakan beratnya kehidupan yang ia alami di AS.

Lee Wong (Twitter/@JimLaporta)

Tak cuma kekerasan verbal rupanya. Lee Wong juga mengalami beberapa serangan fisik. Ia bercerita, suatu hari pada tahun keduanya di perguruan tinggi, Lee Wong pernah diserang secara tiba-tiba oleh seorang pria berkulit putih.

Pria itu memukuli Lee Wong dengan alasan fisiknya yang mirip pria Jepang. Lee Wong tak tahu apa-apa saat itu. Serangan itu membuatnya kebingungan. Yang jelas ia menyebut itu sebagai "serangan yang parah."

"Dia mendorongku ke tanah dan aku harus ke rumah sakit."

Lee Wong kemudian mengajukan tuntutan pidana dan membawa kasus penyerangan itu ke pengadian. Sepanjang proses peradilan, penyerang Lee Wong tak tampak kapok.

Pria itu justru terus memanggilnya "Jap" dengan nada menghina. Hakim menjatuhkan hukuman satu tahun dalam bentuk masa percobaan non-pelaporan.

Ilustrasi foto (David Mark/Pixabay)

"Itu artinya selama dia tidak menyerang orang lain dalam waktu satu tahun dan dilaporkan, dia bebas."

Penyerangan itu berbekas luar biasa di kepala Lee Wong. "Aku bodoh dan baru berusia 20 tahun, aku membiarkannya masuk ke dalam kepalaku. Aku bingung dan marah."

"Selama dua tahun aku marah pada dunia dan aku membenci orang kulit putih, tetapi aku kemudian menikah dengan wanita kulit putih," ungkapnya.

"Aku tidak bisa belajar dan hanya memikirkan balas dendam, betapa bodohnya aku."

Bungkam Asian Hate dengan luka perang di dada

Baru-baru ini, 'Ke-Amerika-an' Lee Wong dipertanyakan karena fisiknya yang Asia. Menjawab serangan itu, Lee berbicara di hadapan publik, menunjukkan betapa Amerikanya dia dengan sejumlah luka perang di badannya. Perang untuk AS.

Aksi Lee Wong viral dalam bentuk video. Di tengah pertemuan Dewan Pengawas West Chester, Lee Wong melepas jaket dan membuka kancing bajunya.

"Orang-orang memertanyakan patriotisme saya, bahwa saya tidak cukup terlihat seperti orang Amerika," kata Lee Wong dengan tangan menunjuk ke wajahnya.

"Saya ingin menunjukkan sesuatu kepada Anda karena saya tidak takut. Saya tidak harus hidup dalam ketakutan, intimidasi, atau penghinaan."

Ketika kancing baju tersibak, tampak bekas luka panjang membentang di dada Lee Wong. "Ini buktinya. Ini dipertahankan melalui pengabdianku di militer AS. Sekarang, apakah patriot ini cukup?" tutur Lee Wong.

Lee Wong dalam pertemuan dewan (Sumber: Wamc.org)

"Prasangka adalah kebencian," kata Lee Wong sambil mengancingkan kembali baju bajunya. "Dan kebencian itu bisa diubah. Kita adalah manusia. Kita harus lebih ramah, lebih lembut satu sama lain. Karena kita semua sama. Kita adalah satu manusia di Bumi ini."

Ada alasan kuat kenapa Lee Wong memutuskan membuka bekas luka di badannya. "Waktunya tepat mengingat apa yang terjadi di negara ini. Saat itu, saya tidak tahu apa yang terjadi pada saya ... Aku hanya tahu aku harus mengatakan sesuatu," kata Wong, berbicara kepada The Cincinnati Enquirer.

Video pidato Lee Wong diunggah pada Jumat, 26 Maret oleh reporter Associated Press, James LaPorta. Video itu mendapat respons luar biasa. Hingga Selasa siang, 30 Maret, video sudah ditonton 4,8 juta kali, dengan 54.7 ribu Retweets dan 205,6 ribu Likes.

Diskriminasi dan intimidasi orang Asia di AS

Ilustrasi foto (Jason Leung/Unsplash)

Pidato Lee Wong menyebar masif di tengah meningkatnya rasisme, intimidasi, serta kekerasan terhadap orang-orang Asia di AS. Media dan publik menyebutnya dengan "Asian Hate".

Pada 16 Maret, delapan orang tewas dalam penembakan di tiga spa di kawasan Atlanta. Sehari berselang, seorang wanita Asia-Amerika berusia 75 tahun bernama Xiao Zhen Xie diserang pria kulit putih di San Fransisco, California.

Penyerangan Xiao Zhen juga sempat jadi topik utama karena wanita itu sempat melawan tersangka dengan papan kayu. Penyerang Xiao Zhen kemudian ditangkap.

Namanya Steven Jenkins. Sebelum menyerang Xiao Zhen, Jenkins juga diketahui menyerang orang tua Asia-Amerika lain bernama Ngoc Pham, 83 tahun.

Sheriff Villanueva mengutuk keras aksi penembakan di Atlanta dan Colorado (Sumber: KJRI Los Angeles)

Laporan Stop AAPI Hate memaparkan gambaran lebih luas soal Asian Hate di AS. Menurut laporan itu, ada sekitar 3.800 insiden kebencian yang terjadi selama pandemi.

Dikutip dari People, studi statistik kepolisian juga menunjukkan tingginya peningkatan kejahatan rasial terhadap orang Asia-Amerika yang mencapai 150 persen di tahun 2020. Laporan lain yang diterbitkan Center for the Study of Hate and Extremism di California State University, San Bernardino, menganalisis data tentang kejahatan kebencian pada 2019 dan 2020 dari pihak berwenang di 16 kota terbesar di AS.

Studi itu menemukan bahwa gelombang pertama kekerasan terhadap Orang Asia-Amerika terjadi tahun lalu, ketika kasus COVID-19 mulai melonjak di bulan Maret dan April. Temuan menunjukkan bahwa Kota New York mengalami peningkatan terbesar dalam kejahatan kebencian anti-Asia, dengan rincian peningkatan dari tiga kasus pada 2019 menjadi 28 di 2020.

*Baca Informasi lain soal RASISME atau baca tulisan menarik lain dari Yudhistira Mahabharata.

 

BERNAS Lainnya