Vaksin Johnson & Johnson Mungkin jadi Solusi Penting untuk Kemunculan Varian COVID-19 Afsel yang Mengkhawatirkan
Ilustrasi foto (Little Plant/Unsplash)

Bagikan:

JAKARTA - Kabar baik dari Johnson & Johnson. Vaksin yang mereka produksi menunjukkan hasil yang begitu baik. Ini jadi kemajuan penting, terutama di Amerika Serikat (AS). Secara luas, vaksin ini juga mungkin jadi solusi penting untuk varian baru dari Afrika Selatan yang mengkhawatirkan.

Studi terbaru perusahaan bersama Food and Drug Administration (FDA) menunjukkan suntikan vaksin Johnson & Johnson memberi perlindungan kuat terhadap penyakit parah dan kematian akibat COVID-19. Vaksin juga dapat menghambat penyebaran virus dari mereka yang telah divaksinasi.

Laporan yang dirilis Rabu, 24 Februari juga mengonfirmasi bahwa AS sangat mungkin dengan segera memiliki akses vaksin ketiga yang telah dikembangkan hampir satu tahun belakangan. Akhir bulan lalu, Johnson & Johnson, dalam laporannya menyinggung perihal itu.

FDA menyatakan segera melakukan pemungutan suara dengan panel penasihat vaksin pada Jumat, 26 Februari. Jika hasilnya positif, otorisasi akan dilakukan keesokan harinya, Sabtu, 27 Februari.

Setelahnya, distribusi dapat segera dilakukan. Tidak seperti vaksin Pfizer-BioNTech dan Moderna yang membutuhkan dua dosis. Vaksin Johnson & Johnson hanya membutuhkan satu suntikan.

Mengakselerasi vaksin lebih menyeluruh

Ilustrasi foto (Mufid Majnun/Unsplash)

Hal ini memungkinkan akselerasi vaksinasi yang menyeluruh. Menurut data, AS hingga hari ini telah menyuntik lebih 44 juta orang.

Mereka setidaknya telah menerima satu dosis vaksin Moderna dan Pfizer. Di antara mereka, hanya sekitar 20 juta orang yang telah mendapat dosis kedua.

Vaksin-vaksin di AS sebelumnya menggunakan teknologi mRNA. Teknologi itu membutuhkan mesin pendingin khusus untuk penyimpanan jangka panjang.

Sementara, vaksin Johnson & Johnson dijanjikan dapat bertahan lebih lama, hingga tiga bulan di dalam suhu lemari es normal. Hal ini membuatnya lebih mudah didistribusikan dan lebih mudah bagi apotek serta klinik menyimpan vaksin.

Segala hal itu memungkinkan karena Johnson & Johnson menggunakan virus yang lebih kuat dibanding banyak vaksin lain di dalam proses penciptaannya. Gedung Putih, pada Rabu, 24 Februari mengatakan sekitar dua juta dosis siap dialokasikan ke otoritas di berbagai negara bagian pekan depan.

Sementara, dua juta lainnya akan disuplai ke apotek dan pusat kesehatan masyarakat. Dokumen yang diterbitkan oleh F.D.A. pada hari Rabu, 24 Februari menunjukkan vaksin baru memiliki tingkat kemanjuran keseluruhan 72 persen di AS dan 64 persen di Afrika Selatan, tempat di mana varian baru COVID-19 yang mengkhawatirkan muncul pada musim gugur.

Potensi halau varian COVID-19 Afrika Selatan

Varian baru, sebagaimana diketahui telah menyebar sebagai sebagian besar kasus baru. Khusus Afrika Selatan, laporan terbaru menunjukkan peningkatan kemanjuran sebesar tujuh persen ketimbang studi-studi terdahulu.

Vaksin tersebut juga menunjukkan kemanjuran 86 persen melawan bentuk parah COVID-19 di Amerika Serikat, dan 82 persen melawan penyakit parah di Afrika Selatan. Itu berarti orang yang divaksinasi memiliki risiko yang jauh lebih rendah untuk dirawat di rumah sakit atau meninggal akibat COVID-19.

Tak satu pun dari hampir 22 ribu orang yang divaksinasi dalam uji coba tersebut meninggal karena COVID-19. “Vaksin ini benar-benar telah memenuhi standar yang layak untuk diluncurkan dan digunakan. Berkinerja baik," kata Natalie Dean, ahli biostatistik di Universitas Florida.

Vaksin resmi lainnya, dan terutama yang hanya membutuhkan satu dosis, dapat memblokir penyebaran virus secara lebih efektif dan menurunkan kasus lebih cepat. “Memiliki lebih banyak produk tersedia adalah keuntungan besar,” kata Dr. Dean.

 

BERNAS Lainnya