Shadow Banned dan Alasan Semangka Jadi Simbol Solidaritas Palestina
Sebuah taksi berhiaskan semangka berwarna bendera Palestina untuk memprotes tindakan keras polisi yang melarang pengibaran spanduk tersebut, di Tel Aviv pada 21 Juni 2023. (Zazim/Community Action)

Bagikan:

JAKARTA – Di tengah derasnya dukungan kepada Palestina, gambar dan emoji buah semangka marak digunakan di media sosial dalam beberapa pekan terakhir.

Rupanya warganet menggunakan emoji dan gambar semangka di media sosial untuk menghindari shadow banned terhadap bendera Palestina.

Dukungan untuk Palestina mengalir deras sejak konflik Israel-Hamas kembali pecah pada 7 Oktober 2023. Awalnya, jagat maya menyuarakan dukungan untuk Palestina dengan mengunggah bendera negara tersebut.

Namun, tanda pagar seperti Free Palestine atau Stand with Palestine menerima engagement lebih sedikit dibanding unggahan lainnya. Para kreator konten meyakini, pesan yang berisi dukungan kepada rakyat Palestina terkena shadow banned oleh sejumlah platform media sosial.

Pengendara melintas di depan mural bertema dukungan kepada Palestina di Jalan Raya Juanda, Kota Depok, Jawa Barat, Senin (6/11/2023). (Antara/Yulius Satria Wijaya/Spt)

Shadow banned adalah ketika platform media sosial secara aktif melakukan sensor atau mengurangi reach dari konten atau unggahan tertentu. Platform yang melakukan blokade terhadap dukungan Palestina adalah X, Instagram, dan Facebook.

Untuk mengakalinya, para kreator konten menggantinya dengan emoji atau buah semangka sebagai simbol dukungan kepada Palestina.

Mengapa semangka jadi pilihan untuk menyatakan dukungan kepada Palestina?

Simbol Dukungan untuk Palestina

Mengutip berbagai sumber, pemilihan buah semangka sebagai wujud dukungan kepada Palestina bukan tanpa alasan. Semangka dilambangkan sebagai budaya maupun entitas Palestina. Buah yang mayoritas dagingnya berwarna merah ini tumbuh subuh di wilayah Jenin sampai Gaza.

Hingga saat ini, tak terhitung jumlahnya berapa deretan artis, selebritas, bahkan tokoh dunia yang ikut menyuarakan dukungan mereka dengan memasang foto semangka di media sosial masing-masing.

Namun, pemilihan semangka sebagai dukungan kepada Palestina ternyata terjadi sudah sejak lama.

Mengutip bon appetit, saat Perang Enam Hari pada 1967 antara Israel dan negara tetangga termasuk Mesir, Suriah, dan Jordania, pemerintah Israel melarang pengibaran bendera Palestina di daerah perbatasan. Ini dilakukan Israel untuk membatasi nasionalisme Palestina dan negara-negara Arab.

Larangan tersebut dicabut pada 1993, ketika Perjanjian Oslo melonggarkan pembatasan terhadap warga Palestina di Israel.

Namun selama periode larangan itu, masyarakat Palestina menggunakan semangka sebagai simbol protes terhadap Israel. Selain sebagai entitas budaya, semangka dipilih juga karena ketika diiris, buah tersebut menampilkan warna patriotik bendera Palestina. Daging semangka berwarna merah, biji berwarna hitam, kulit berwarna putih, dan kulit luarnya berwarna hijau.

Semangka sebagai lambang protes semakin meluas dan kian dikenal secara global lewat beberapa karya seniman memasuki era 2000-an.

Pada 2007, tak lama setelah Intifada Kedua, seniman Khaled Hourani menciptakan kisah ‘Watermelon’ untuk buku berjudul Subjective Atlas of Palestine.

Lalu pada 2013, ia mengisolasi satu cetakan dan menamainya The Colours of the Palestinian Flag, yang dilihat oleh orang-orang di seluruh dunia.

Massa mengikuti aksi akbar Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina di kawasan Monas, Jakarta, Minggu (5/11/2023). (Antara/Bayu Pratama S/foc)

Langkah Hourani akhirnya menginspirasi seniman lokal lain untuk menjadikan semangka sebagai simbol solidaritas. Dalam wawancara dengan Washington Post, Hourani memberi respons menarik terhadap peristiwa tersebut, “Seni terkadang bisa lebih politik dari Langkah politik itu sendiri,”.

Media sosial menjadi medan pertempuran saat ini, dengan banyak orang mencoba memperjuangkan Palestina. Ketika konten dukungan kerap disensor, termasuk bendera Palestina, gambar irisan semangka semakin sering digunakan masyarakat pro-Palestina. 

Indonesia Berdiri Bersama Palestina

Menurut data United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) selama periode 7 Oktober hingga 1 November 2023, lebih dari 8.900 warga Palestina meninggal dunia akibat perang antara Israel dan kelompok militan Hamas.

Dari Palestina, korban terbanyak berada di Jalur Gaza, yang mencapai 8.805 orang ditambah 22.240 korban luka. Di Tebi Barat, sebanyak 128 orang meninggal dan 2.274 orang lainnya luka-luka.

Dalam periode yang sama, jumlah korban jiwa dari pihak Israel 1.416 orang dan korban luka 5.413 orang. Selain menimbulkan korban jiwa dan luka, pihak Israel juga telah menangkap lebih dari seribu warga Palestina, demikian mengutip Antara.

Di tengah konflik yang kian memanas, dukungan kepada Palestina terus mengalir. Aksi solidaritas untuk Palestina terjadi di sejumlah negara.

Presiden Joko Widodo melepas bantuan kemanusiaan untuk Palestina di Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Sabtu (4/11/2023). (kemenkopmk.go.id)

Di Inggris misalnya, puluhan ribu orang menggelar demonstrasi di London pada medio Oktober lalu untuk menunjukkan solidaritas kepada Palestina. Gelombong dukungan juga terjadi di berbagai kota di Italia, di Prancis, Amerika Serikat, Spanyol dan lain-lain.

Indonesia, sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia dan dikenal memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Palestina, tak mau ketinggalan.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bersama majelis keagamaan lainnya menggelar aksi bertajuk ‘Aksi Akbar Bela Palestina’ di Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Minggu (5/11/2023) pagi.

Sikap pemerintah Indonesia terhadap konflik Israel-Palestina tidak pernah berubah. Pemerintah Indonesia dengan tegas berdiri di samping Palestina.

“Atas nama Pemerintah Indonesia, kami ingin menegaskan kembali dukungan Indonesia terhadap perjuangan bangsa Palestina,” kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam acara Aksi Akbar Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina akhir pekan kemarin.

Selain dukungan moril, Pemerintah Indonesia juga telah melepas bantuan kemanusiaan untuk Palestina yang dilepas secara langsung oleh Presiden Joko Widodo, Sabtu (4/11), di Pangkalan Udara Hakim Perdana Kusuma.

Pengiriman bantuan tahap pertama seberat 51,5 ton bantuan, yang terdiri dari bahan makanan, alat medis, selimut, tenda dan barang logistik lainnya yang disesuaikan dengan kebutuhan di Gaza.