Sederet Artis Jepang yang Bunuh Diri di Tengah Pandemi COVID-19
Hana Kimura (Instagram @/hanadayo0903)

Bagikan:

JAKARTA - Industri hiburan Jepang dilanda duka mendalam di tengah pandemi COVID-19. Beberapa figur publik kenamaan meninggal dunia di tengah situasi sulit ini.

Hana Kimura, pegulat yang juga dikenal sebagai pemain Terrace House di Netflix adalah salah satu figur publik Jepang yang menghebohkan masyarakat. Ia meninggal pada 23 Mei 2020 dengan dugaan bunuh diri.

Selain itu ada Yuko Takeuchi yang meninggal dunia pada 28 September 2020. Ia dikabarkan meninggal dunia dengan gantung diri. Padahal, Takeuchi baru melahirkan anaknya pada awal tahun 2020.

Takashi Fujiki, aktor yang juga bunuh diri meninggalkan sebuah surat yang mengatakan ia tidak memiliki rasa percaya diri untuk berakting.

Bunuh diri menjadi salah satu kasus tertinggi di Jepang. Melansir JapanNews, kasus bunuh diri di Jepang mencapai 2,153 pada bulan Oktober di mana pandemi masih berjalan.

Survei Terbaru

Japan Actor’s Union yang merupakan organisasi untuk mengurus figur publik di Jepang mengadakan survei kepada 2,500 aktor dan aktor pengisi suara pada awal November.

Survei itu untuk mencari tahu apakah mereka pernah berpikiran untuk meninggalkan dunia karena pekerjaan mereka. 48 orang menjawab iya.

Tekanan kerja menjadi alasan utama mengapa mereka ingin mengakhiri hidup. Selain mendapat gangguan secara emosional maupun pelecehan, jam kerja yang tidak sesuai juga menjadi faktor utama.

“Selebrita selalu di bawah pengawasan ketat ketika berada di media sosial, dan ketika mereka mengalami stres seperti pembatasan makanan atau tidur, mereka kekurangan hubungan atau orang untuk mendiskusikan masalah ini. Artinya kecemasan mereka semakin meningkat dan buruknya, mereka bisa bunuh diri,” kata psikiater yang membagikan opininya.

Perkataan tersebut mungkin sedikit mengingatkan dengan Hana Kimura, seorang pegulat yang bergabung dengan serial reality Terrace House: Tokyo dari Netflix. Kontroversi dimulai ketika episode yang ditayangkan Januari 2020 menayangkan Kimura yang bertengkar dengan teman serumahnya di Terrace House, Kai Edward Kobayashi.

Kobayashi merusak kostum gulatnya dan Kimura menjadi emosi hingga memukul topi Kobayashi dan jatuh. Sikap tersebut membuat Kimura dirundung komentar dan pesan kebencian terus menerus.

Meski ratingnya naik tingkat, namun pelecehan terhadap Kimura tidak kunjung selesai. Sampai akhirnya Hana Kimura merasakan stres dan memilih mengakhiri hidup di tengah kepopulerannya. Ia sempat mengucapkan selamat tinggal melalui media sosialnya sebelum ditemukan tidak bernyawa di kediamannya.

 

Belakangan, baru diketahui bahwa tim produksi Terrace House meminta Kobayashi untuk mencuci kostum gulat Kimura dengan sengaja supaya menambah kesan drama dalam acara tersebut.

Tidak Mudah

Menjadi seorang figur publik di Jepang nyatanya tidak mudah. Berbagai faktor membelakangi sulitnya menjadi aktor dan aktris dalam keadaan baik.

Pelecehan, kesehatan mental, serta komentar masyarakat adalah masalah yang selalu dihadapi oleh seorang figur publik di Jepang. Mereka dinilai harus menunjukan image yang positif dan baik, sehingga ketika satu waktu mereka tidak terlihat seperti itu, mereka dianggap sebagai bintang yang tidak pantas dan masyarakat mencoba menjatuhkannya.

Kesehatan mental berupa rasa khawatir, stres, dan berpikiran secara berlebihan adalah hal yang paling erat dengan pandemi COVID-19. Tetapi stereotip dan rasa malu dalam membahas kesehatan mental di Jepang menjadi halangan bagi seseorang untuk mendapat perawatan.

“Kesehatan mental setiap orang sedang mengalami kesulitan, terutama di tengah situasi seperti ini. Mengingat industri ini dipenuhi dengan atensi media dan alasan lainnya, tidak perlu terkejut jika tahu banyak orang yang mengalami kesehatan mental,” kata Vickie Skorji - direktur TELL Lifeline, dikutip dari Variety

Manajemen Artis Harus Terlibat

Miyuki Takamatsu, CEO Free Stone Productions yang mengerjakan bagian Public Relations berpendapat, manajemen artis harus terlibat. “Mereka tidak bisa mengekspresikan diri mereka secara bebas dalam kehidupan pribadi, politik dan hal lainnya. Dan manajemen artis adalah struktur paling dasar untuk artis mereka.”

Menurut Takamatsu, seorang artis harus memiliki koneksi dan orang yang bisa memperhatikan kondisi mereka. Ketika sang artis merasakan kesulitan, mereka juga menemukan orang yang bisa diajak untuk berdiskusi salah satunya pihak manajemen yang mengelola jadwal mereka.

Japan Actor’s Union juga diharapkan dapat membangun sebuah layanan kesehatan mental untuk melindungi para figur publik di Jepang dalam menjalani kehidupan di industri hiburan ini. Masyarakat juga perlu memahami bahwa seorang artis adalah manusia yang memiliki kesalahan seperti masyarakat pada umumnya sehingga mereka tidak perlu dicaci maki atau dihakimi.