Bagikan:

JAKARTA - Yahya Cholil Staquf terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Pria yang akrab disapa Gus Yahya ini terpilih sebagai Ketua Umum PBNU setelah rangkaian panjang Muktamar ke-34 NU di Lampung sejak Kamis, 23 Desember 2021.

Penghitungan suara digelar terbuka dan disiarkan secara daring. Gus Yahya meraih suara 337 suara PWNU dan PCNU.

Sementara, petahana, KH Said Aqil Siroj mendapat 210 suara. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) memberi selamat atas terpilihnya Gus Yahya sebagai Ketua Umum PBNU periode 2021-2026.

"Selamat dan sukses mengemban amanat kepada KH Yahya Cholil Staquf. Kita berharap jemaah dan jam'iyyah NU makin maju mendunia di tangan Gus Yahya, ketum PBNU terpilih," ujar Wakil Ketua Umum PKB Jazilul Fawaid, mengutip artikel VOI berjudul Jadi Ketum PBNU Gantikan KH Said Aqil, PKB Yakin Gus Yahya Bangun Tradisi Baru yang Lebih Baik Bagi NU.

Jazilul mengatakan PKB yakin Gus Yahya akan membawa ormas NU semakin mendunia dengan terobosan-terobosan baru. "Kami yakin Gus Yahya akan membuat terobosan dan semangat baru bagi kiprah NU dalam melayani umat, bangsa dan negara, bahkan pada dunia," kata Jazilul.

Siapa Yahya Cholil Staquf?

Gus Yahya (Sumber: Wikipedia.org)

Gus Yahya lahir pada 16 Februari 1966 di Rembang, Jawa Tengah. Gus Yahya adalah anak dari pengasuh Pondok Pesantren Roudlat Thalibin, KH Muhammad Cholil Bisri.

Ayah dari Gus Yahya juga dikenal sebagai sosiolog dan politikus pendiri PKB. Kakek dari Gus Yahya juga merupakan tokoh besar NU, KH Bisri Mustofa.

Gus Yahya merupakan Kakak kandung Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas. Dalam pendidikan, Gus Yahya mengemban ilmu di Madrasah Al Munawwir Krapyak, Yogyakarta.

Tumbuh besar di pesantren dan merupakan anak dari pemilik pesantren, Gus Yahya sudah akrab dengan ilmu agama sejak kecil. Gus Yahya kemudian melanjutkan pendidikannya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Gadjah Mada.

Ia aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Yogyakarta. Pada 31 Mei 2018, Gus Yahya dilantik sebagai salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Gus Yahya sebelumnya juga pernah menjadi juru bicara presiden keempat RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Kontroversi Gus Yahya

Gus Yahya pernah diundang oleh Israel Council on Foreign Relations (ICFR) untuk menjadi pembicara seminar yang diselenggarakan pada 10 Juni 2018. Seminar tersebut digelar di The David Amar Worldwide North Africa Jewish Heritage Center, Yerusalem.

Keberangkatan Yahya saat itu ke Israel bukan mewakili pemerintah Indonesia. Ketua Umum PBNU saat itu, Said Aqil Siraj juga mengatakan kedatangan Gus Yahya ke Yerusalem bukanlah mewakili PBNU dan atas nama pribadi.

"Sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Nahdlatul Ulama," kata Said, mengutip Tempo.

Kehadiran Gus Yahya dalam acara tersebut dikecam kelompok gerakan Palestina, Hamas. Menurut Hamas kedatangan Gus Yahya di Yerusalem merupakan dukungan besar dan pengakuan bagi rezim fasis.

Gus Yahya dalam kunjungannya ke Israel (Twitter/@netanyahu)

Hamas juga menilai kehadiran Gus Yahya memberikan pembenaran bagi Israel untuk melakukan kejahatan lebih lanjut terhadap rakyat dan tempat-tempat suci bangsa Palestina.

"Meski kami menghargai sikap bersejarah Indonesia yang mendukung hak-hak rakyat Palestina dan perjuangan mereka untuk kebebasan dan kemerdekaan, kami mengecam tindakan tidak terhormat, yang tidak hanya menghina rakyat Palestina dan pengorbanan mereka, tetapi juga rakyat Indonesia dan sejarah panjang dalam mendukung perjuangan Palestina," kata Hamas, mengutip CNN Indonesia.

Pada 14 Juni 2018, Gus Yahya bertemu dengan PM Israel Benjamin Netanyahu. Netanyahu membagikan foto-foto saat mereka bertemu di akun Twitter-nya.

"Pertemuan spesial hari ini di Yerusalem dengan Yahya Cholil Staquf, sekretaris jenderal organisasi Muslim global Nahdlatul Ulama," kata Netanyahu di unggahannya.

*Baca Informasi lain soal KONFLIK ISRAEL-PALESTINA atau baca tulisan menarik lain dari Putri Ainur Islam.

BERNAS Lainnya