Mutasi Virus Memang Lumrah, Tapi Varian Baru Virus COVID-19 B.1.1.529 Ini Pengecualian
Ilustrasi (Unsplash/Fusion Medical)

Bagikan:

JAKARTA - Menteri Kesehatan Afrika Selatan (Afsel) 25 November kemarin mengumumkan penemuan varian virus corona baru, B.1.1.529. Virus tersebut yang disinyalir menjadi biang kerok meroketnya kasus COVID-19 di Afsel pada bulan ini. Mutasi virus memang alamiah. Itu betul. Lantas apa yang membuat mutasi kali ini begitu menggemparkan?

Peneliti di Afsel berlomba menganalisis varian virus corona baru B.1.1.529 ini. Varian ini disinyalir bermutasi cukup drastis daripada varian lain, termasuk Delta.

Nature menyebut varian baru virus corona ini pertama kali diidentifikasi di Botswana pada bulan ini. Varian virus bahkan sudah sampai di Hong Kong, dibawa oleh pelancong dari Afrika Selatan.

Sekarang para ilmuwan tengah berpacu waktu untuk mencoba memahami sifat-sifat varian baru virus corona. Seperti seberapa besar ia dapat menghindari respon imun yang telah dibentuk vaksin dan seberapa parah dampak infeksinya.

Setidaknya saat ini ada 77 kasus yang sepenuhnya dikonfirmasi di provinsi Gauteng di Afrika Selatan, empat kasus di Botswana dan satu di Hong Kong (yang secara langsung terkait dengan perjalanan dari Afrika Selatan). Namun, ada petunjuk bahwa varian tersebut telah menyebar lebih luas.

Melihat peningkatan kasus di Afsel bahkan membuat Pemerintah Inggris bergegas mengambil kebijakan pembatasan perjalan. Inggris mengumumkan untuk sementara waktu melarang penerbangan dari Afrika Selatan, Namibia, Botswana, Zimbabwe, Lesotho dan Eswatini mulai pukul 1200 GMT pada Hari Jumat, dengan pelancong Inggris yang kembali dari tujuan tersebut harus dikarantina.

Melihat respon itu, tentu varian baru virus corona ini sulit dipandang sebelah mata. Memang mutasi dari sebuah virus adalah hal lazim, tapi pertanyaannya seberapa bahayakah mutasi virus corona baru ini? Apa yang membuatnya begitu menggemparkan warga dunia?

Memahami mutasi

Sebelum berusaha memahami seberapa berbahaya mutasi virus corona baru ini, mari kita mengingat kembali bagaimana virus bisa bermutasi. Begini cara kerjanya.

Seperti kita tahu, anatomi virus begitu sederhana. Pada dasarnya ia hanyalah material genetik yang dibungkus protein. Materi genetik itu terdiri dari molekul-molekuk yang biasanya direpresentasikan sebagai rangkaian huruf.

Tangkap layar elpais.com

Setiap bagian dari kode huruf ini berisi instruksi untuk membuat satu protein khusus yang memungkinkan sebuah virus bisa berfungsi. Yang penting diketahui adalah virus punya satu tujuan: memperbanyak dirinya.

Tapi karena virus begitu sederhana, sampai-sampai ia tak bisa melakukan semuanya itu sendiri. Ia perlu inang. Virus perlu diri kita untuk melakukannya.

Setiap kali virus menginfeksi seseorang, ia menggunakan sel orang untuk membuat salinan dirinya. Virus mereplikasi kode-kode kompleks ini lagi, lagi, dan lagi.

Namun pada proses itu kadang kala terjadi kesalahan. Kode-kode berupa huruf itu terkadang terhapus atau bertambah, bahkan kode-kodenya terbalik.

Kesalahan itulah yang disebut mutasi. Dan itu sedikit mengubah instruksi pembuatan virus baru lainnya. Virus yang sedikit berubah itulah yang disebut varian.

Lebih mudah menyebar

Karena virus terus-menerus mereplikasi diri, wajar bila ia berubah seiring berjalannya waktu. Sebagian besar mutasi virus memang tidak berbahaya, bahkan bisa membuat virus melemah dan benar-benar menghilang.

Tapi di lain waktu, terjadi serangkaian mutasi yang membuat virus sedikit lebih unggul dari imun kita. Itulah yang mulai menyita perhatian ilmuwan kepada SARS-COv2 sejak September 2020.

Virus corona baru memiliki protein lonjakan (spike proteins) yang terlihat seperti antena. Protein lonjakan itulah yang berfungsi untuk mengikat dan menginfeksi sel manusia.

Masalahnya protein lonjakan itu tak selalu cocok di sel manusia, sehingga tak selalu bisa menembus dan menginfeksinya. Namun varian B.1.1.7 yang disebut ilmuwan sebagai varian Alpha, memiliki banyak mutasi pada bagian protein lonjakan: ini membuatnya lebih mudah mengikat sel manusia. Inilah yang bisa membantu virus lebih menular.

Ilustrasi (Unsplash/JC Gellidon)

Jumlah mutasi virus corona baru yang diteliti sebetulnya banyak. Alpha adalah salah satu dari empat varian yang sekarang paling diperhatikan World Health Organization (WHO).

Ketiga lainnya adalah Beta (B.1.351) diidentifikasi di Afsel pada Mei 2020, Gamma (P.1) diidentifikasi di Brazil pada November 2020, dan Delta (B.1.617.2) diidentifikasi di India pada Oktober 2020. Dan saat ini setidaknya ada sembilan varian lain yang masih diawasi CDC Eropa. Lalu seberapa bahaya varian baru virus corona B.1.1.529 yang baru saja diidentifikasi ini?

Seberapa bahaya varian B.1.1.529?

Profesor Tulio de Oliveira, direktur Centre for Epidemic Response and Innovation di Afsel mengatakan, ada konstelasi mutasi yang tidak biasa dan "sangat berbeda" dengan varian lain yang telah beredar. "Varian ini memang mengejutkan kami, ia seperti memiliki lompatan besar pada evolusi," kata Oliveira dikutip BBC.

Dalam briefing media Prof de Oliveira mengatakan ada 50 mutasi secara keseluruhan dan lebih dari 30 memberikan perubahan pada protein lonjakan. Itu tentu juga menjadi ancaman bagi orang yang telah divaksin sebab mereka bisa lebih terikat pada sel.

Bagian yang paling mencemaskan adalah mutasi pada varian baru ini memperbesar bagian protein lonjakan atau spike protein. Kalau varian Delta, yang selama ini dianggap paling menular dari varian lain, hanya punya dua mutasi, nah varian baru virus corona B.1.1.529 ini punya 10 mutasi.

Tentu jika dibandingkan dengan virus corona yang mewabah pertama kali di Wuhan ini sangat jauh berbeda. Itu berarti vaksin, yang dirancang menggunakan galur asli, mungkin tidak seefektif itu.

Selain itu, beberapa mutasi dalam varian baru ini telah terlihat sebelumnya di varian lain, yang memberikan beberapa wawasan tentang kemungkinan peran mereka dalam varian ini. Hal itu masuk akal, sebab ini juga terjadi pada varian Delta yang memiliki kode-kode yang terkandung di dalam varian Espilon, Gama, dan Beta.

"Mereka memberi kami kekhawatiran bahwa virus ini mungkin telah meningkatkan penularan," kata Profesor Richard Lessells dari Universitas KwaZulu-Natal di Afsel. "Tetapi mungkin juga dapat menerobos bagian sistem imun," ujarnya.

*Baca Informasi lain tentang MUTASI COVID-19 baca tulisan menarik lain dari Ramdan Febrian Arifin.

 

BERNAS Lainnya