JAKARTA - Starbucks Korea sedang kena batunya. Promosi tumbler yang semula hanya urusan jualan, berubah menjadi perkara serius yakni sejarah, luka publik, boikot PNS, sampai penyelidikan polisi.
Dilaporkan Yonhap dikutip Jumat, 22 Mei, kegaduhan itu bermula dari kampanye daring bertajuk “Tank Day”. Starbucks Korea menawarkan diskon untuk set tumbler “Tank”. Masalahnya, promosi itu muncul berdekatan dengan peringatan Pemberontakan Gwangju 18 Mei, salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah demokrasi Korea Selatan.
Pada 1980, militer menumpas gerakan prodemokrasi di Gwangju. Tank dikerahkan untuk membungkam pengunjuk rasa. Banyak warga sipil menjadi korban.
Karena itu, kata “tank” bukan sekadar nama produk. Di Korea Selatan, kata itu bisa membuka lagi ingatan tentang represi militer. Maka, ketika dipakai untuk promosi, publik marah.
Promosi itu makin menuai kecaman karena memuat kalimat: “Letakkan di atas meja dengan bunyi ‘Tak!’” Kata “Tak” dinilai mengingatkan publik pada Park Jong-chol, aktivis mahasiswa yang meninggal pada 1987 setelah disiksa.
BACA JUGA:
Starbucks Korea akhirnya mencabut kampanye tersebut hanya beberapa jam setelah diluncurkan. Tapi amarah publik sudah telanjur menyebar.
Korean Government Employees’ Union, serikat pegawai negeri sipil Korea Selatan, lalu meminta anggotanya memboikot Starbucks. Mereka mengirim pemberitahuan ke cabang-cabang di seluruh negeri.
“Serikat memandang situasi ini dengan sangat serius dan mengusulkan boikot terhadap Starbucks. Karena itu, kami meminta partisipasi aktif,” kata serikat tersebut dikutip Yonhap.
Serikat itu juga menyoroti kebiasaan memberi produk dan kartu hadiah Starbucks kepada anggota. Kini, praktik itu diminta dihentikan.
Serikat PNS lain, Confederation of Korean Government Employees’ Unions, juga mengeluarkan imbauan agar anggotanya tidak memakai kartu hadiah Starbucks.
Tekanan tidak berhenti di serikat. Menteri Dalam Negeri Korea Selatan Yun Ho-jung ikut menyatakan sikap. Ia berjanji tidak akan menggunakan produk Starbucks dalam acara pemerintah.
Lewat unggahan di X, Yun menyampaikan “penyesalan mendalam” atas promosi Starbucks Korea yang ia sebut ahistoris.
“Demokrasi dibangun di atas pengorbanan dan pengabdian banyak warga,” tulis Yun. “Memperlakukan sejarah itu secara ringan atau memanfaatkannya sebagai bahan komersial adalah persoalan yang sama sekali tidak bisa dianggap enteng.”
Starbucks Korea dioperasikan oleh E-Mart, afiliasi Shinsegae. Kini, perkara ini juga masuk ranah hukum.
Badan Kepolisian Metropolitan Seoul akan menyelidiki laporan terhadap Ketua Shinsegae Group Chung Yong-jin dan mantan kepala Starbucks Korea Son Jung-hyun. Laporan itu diajukan kelompok masyarakat sipil atas dugaan penghinaan dan pencemaran nama baik.
Kasus yang semula diajukan ke Kantor Polisi Gangnam itu telah dialihkan ke Badan Kepolisian Metropolitan Seoul.
Pengalihan kasus tersebut dilakukan setelah kelompok masyarakat sipil melaporkan Ketua Shinsegae Group Chung Yong-jin dan mantan kepala Starbucks Korea Son Jung-hyun atas dugaan penghinaan dan pencemaran nama baik terkait promosi “Tank Day”.