Bagikan:

JAKARTA - Microsoft, perusahaan teknologi multinasional asal Amerika Serikat (AS), melakukan penyelidikan atas dugaan Manajer Umumnya untuk wilayah Israel, Alon Haimovich, mempunyai peran besar memanfaatkan teknologi perusahaan demi kepentingan militer Israel.

Mengutip AN, Rabu 13 Mei, laporan surat kabar The Guardian menyebutkan Haimovich telah dicopot dari jabatannya sebagai bos Microsoft Israel di tengah penyelidikan kantor pusat Microsoft di AS tersebut.

Penyelidikan itu dilakukan setelah diterbitkannya laporan investigasi bersama antara The Guardian, +972 Magazine, dan Local Call yang menemukan fakta bahwa teknologi perusahaan Microsoft digunakan untuk memata-matai percakapan telepon sesama warga sipil Palestina.

Laporan investigasi tersebut juga mengungkap bukti bahwa Unit 8200 dari Korps intelijen militer Israel yang khusus bergerak di belakang layar dalam operasi rahasia mengumpulkan Signals Intelligence (SIGINT) telah menggunakan teknologi cloud Azure milik Microsoft untuk menyimpan hasil percakapan yang disadap.

Investigasi ini mencatat militer Israel melanggar ketentuan layanannya ketika menggunakan Azure untuk memata-matai dan menyimpan panggilan sadapan.

Terungkap juga para pegawai Microsoft yang berbasis di Israel tidak transparan kepada perusahaan induk di AS tentang bagaimana teknologi tersebut digunakan.

Unit 8200, korps intelijen militer Israel yang khusus bergerak di belakang layar dalam operasi rahasia mengumpulkan Signals Intelligence (SIGINT). (IDF-Wikimedia Commons)

Menurut laporan The Guardian, peran Haimovich sangat penting dalam mengembangkan hubungan antara militer Israel dan Microsoft, setelah menghadiri pertemuan pada tahun 2021 antara CEO Satya Nadella dan komandan Unit 8200 saat itu.

Sejak saat itu, surat kabar menyebutkan Haimovich menjaga dan mengembangkan hubungan tersebut, yang memungkinkan Unit 8200 menciptakan jaringan luas di dalam platform Azure sehingga pasukannya dapat menganalisis jutaan panggilan telepon yang dilakukan oleh warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat.

Surat kabar bisnis Israel, Globes, melaporkan bahwa Haimovich kemudian dipanggil tim penyelidik Microsoft, termasuk pengacara dari firma AS, Covington & Burling. Keduanya dipanggil setelah mengunjungi kantor anak perusahaan Microsoft di dekat Tel Aviv.

Akses Unit 8200 ke platform dan teknologi kecerdasan buatan Microsoft kemudian dicabut.

Haimovich tidak menanggapi permintaan komentar dari The Guardian, tetapi membual kepada para pegawai Microsoft wilayah Israel dengan mengumumkan kepergiannya terjadi setelah pencapaiannya mengubah Israel menjadi "salah satu pasar Microsoft yang paling cepat berkembang di seluruh dunia."

Sebelumnya, Microsoft menyatakan bahwa para eksekutif senior perusahaannya tidak mengetahui bahwa Unit 8200 menggunakan Azure untuk menyimpan rekaman panggilan telepon warga Palestina yang disadap.

Tahun lalu, wakil ketua dan presiden Microsoft, Brad Smith, mengatakan: “Kami tidak menyediakan teknologi untuk memfasilitasi pengawasan massal terhadap warga sipil.”