JAKARTA — Microsoft memecat empat karyawan yang terlibat dalam aksi unjuk rasa untuk menentang hubungan perusahaan dengan Israel. Aksi ini dilakukan oleh karyawan yang mendukung Palestina.
Dari empat orang yang dipecat, dua di antaranya merupakan dua orang karyawan yang ikut dalam aksi duduk di kantor presiden perusahaan, Brad Smith. Kedua orang tersebut adalah Anna Hattle dan Riki Fameli.
Menurut laporan kelompok protes No Azure for Apartheid, Hattle dan Fameli dipecat melalui pesan suara. Selain kedua orang tersebut, karyawan Microsoft lainnya yang dipecat adalah Nisreen Jaradat dan Julius Shan.
Keduanya juga dipecat karena aksi unjuk rasa, tetapi dengan tindakan yang berbeda. Keduanya diketahui terlibat dalam aksi pendirian tenda di kantor pusat Microsoft. Menurut perusahaan, berbagai aksi ini telah melanggar kebijakan perusahaan.
Dalam sebuah pernyataan yang dibagikan pada Kamis, 28 Agustus, Microsoft menyatakan bahwa demonstrasi di lokasi kerja 'menimbulkan kekhawatiran keselamatan yang signifikan'. Oleh karena itu, aksi ini disebut sebagai pelanggaran serius.
Ini bukan pertama kalinya sejumlah karyawan melakukan aksi unjuk raksa ke Microsoft. No Azure for Apartheid, yang namanya merujuk pada perangkat Azure milik Microsoft, telah menuntut perusahaan untuk berhenti bermitra dengan Israel sejak lama.
Selain didesak untuk memutuskan hubungan dengan Israel, Microsoft juga diminta untuk mengganti rugi kepada warga Palestina. Menurut kelompok tersebut, Microsoft telah merugikan warga Palestina dengan menyediakan layanan Azure ke Israel.
BACA JUGA:
"Kami di sini karena Microsoft terus memberi Israel alat yang dibutuhkannya untuk melakukan genosida, sambil menipu dan menyesatkan para pekerjanya sendiri tentang kenyataan ini," kata Hattle dalam sebuah pernyataan, dikutip melalui Reuters.
Tudingan kelompok tersebut juga sesuai dengan hasil investigasi yang dilakukan oleh sejumlah media. Berdasarkan temuan investigasi, Azure digunakan untuk menyimpan rekaman panggilan telepon warga Palestina oleh militer Israel.
Investigasi yang dilakukan oleh The Guardian, majalah Israel-Palestina +972 Magazine, dan Local Call ini pun menunjukkan bahwa Israel mengandalkan Microsoft untuk mengawasi warga Palestina.