Bagikan:

JAKARTA – Microsoft kembali dipermalukan oleh karyawannya. Kali ini, perusahaan teknologi tersebut dikritik oleh pekerja di bagian perangkat keras Azure saat menggelar acara Build pada Senin, 19 Mei 2024.

Dilansir dari The Verge, seorang karyawan bernama Joe Lopez berteriak 'Bebaskan Palestina!' saat CEO Microsoft Satya Nadella berpidato. Lopez tak menyerukan kata-kata itu sendiri, melainkan bersama pengunjuk rasa lainnya yang diketahui mantan pegawai Google.

Pengunjuk rasa tersebut diketahui dipecat karena melakukan aksi protes terhadap kontrak kemitraan Google dan Israel. Unjuk rasa yang dilakukan Lopez dan beberapa orang lainnya tidak berlangsung lama karena mereka langsung dikeluarkan dari aula.

Aksi unjuk rasa ini dilakukan karena Microsoft menjalin kemitraan cloud dan Kecerdasan Buatan (AI) dengan pemerintah Israel. Menurut Lopez dan pengunjuk rasa lainnya, teknologi Azure telah merugikan Palestina dengan melukai warga sipil.

Dalam video yang beredar di media sosial, terlihat bahwa Lopez berdiri di atas kursinya sambil mempertanyakan kejahatan Microsoft. Menurutnya, Microsoft ikut andil dalam gerakan genosida yang dilakukan oleh Israel. 

"Bagaimana jika Anda menunjukkan bagaimana Microsoft membunuh warga Palestina? Bagaimana jika Anda menunjukkan bahwa kejahatan perang Israel didukung oleh Azure? Sebagai seorang pekerja Microsoft, saya menolak untuk terlibat dalam genosida ini," seru Lopez. 

Meski sudah diusir keluar, aksi unjuk rasa Lopez tidak berhenti di situ. Ia mengirimkan email ke ribuan karyawan Microsoft dan menyuarakan kekecewaannya terhadap tindakan Microsoft. Pasalnya, perusahaan itu mengeklaim bahwa Azure tidak merugikan orang-orang di Gaza. 

“Pimpinan menolak klaim kami bahwa teknologi Azure digunakan untuk menargetkan atau melukai warga sipil di Gaza,” kata Lopez dalam emailnya. “Mereka yang telah memperhatikan, tahu bahwa ini adalah kebohongan besar."

Lopez pun menjelaskan bahwa Azure menyimpan banyak data di cloud. Sebagian besar data diduga berasal dari pengawasan massal secara ilegal. Lopez meyakini bahwa teknologi ini dapat digunakan sebagai upaya pembenaran untuk membasmi warga Palestina. 

Di sisi lain, Microsoft sudah menanggapi kritik karyawan dengan melakukan peninjauan internal menggunakan firma eksternal. Peninjauan ini dilakukan untuk menilai bagaimana teknologinya, termasuk Azure, digunakan selama konflik berlangsung di Gaza. 

Microsoft pun sempat menyatakan bahwa hubungan mereka dengan Kementerian Pertahanan Israel hanya 'hubungan komersial standar'. Melanjuti hasil tinjauan, Microsoft menyatakan bahwa mereka tidak menemukan bukti bahwa teknologi Azure dan AI Microsoft digunakan untuk menyakiti orang-orang di Gaza. 

Ini bukan pertama kalinya Microsoft menerima aksi unjuk rasa di acara besar. Saat menggelar acara ulang tahun yang ke-50 beberapa minggu yang lalu, dua karyawan Microsoft mengganggu pidato CEO AI Microsoft, Mustafa Suleyman, Pendiri Microsoft Bill Gates, mantan CEO Steve Ballmer, dan Nadella. 

Sama seperti unjuk rasa kali ini, kedua pekerja itu meminta Microsoft untuk berhenti membantu Israel dan berhenti menggunakan AI untuk membantu jalannya genosida. Kini, kedua pegawai tersebut telah dihentikan dari Microsoft.