JAKARTA – Perayaan ulang tahun Microsoft ke-50 tidak berjalan dengan baik karena beberapa karyawan terlihat melakukan unjuk rasa. Kabarnya, karyawan tersebut dipecat setelah mengganggu jalannya acara.
Ibtihal Aboussad merupakan salah satu karyawan yang mengganggu acara ulang tahun Microsoft pada 4 April lalu. Di acara tersebut, Aboussad menyebut CEO AI Microsoft Mustafa Suleyman sebagai 'pencari untung dari perang'.
Pernyataan tersebut dibuat karena Microsoft menjalin kemitraan dengan pemerintah Israel. Dalam sebuah email, dikutip dari The Verge, Aboussad dipecat karena bertindak secara agresif di hadapan ribuan peserta, yakni menyela pidato Suleyman.
"Anda menyela pidato CEO Microsoft AI Mustafa Suleyman selama acara ulang tahun ke-50 Perusahaan di Redmond, Seattle, dengan berteriak dan menuding CEO di hadapan ribuan peserta, serta melontarkan tuduhan yang tidak beralasan dan sangat tidak pantas terhadap CEO, Perusahaan, dan Microsoft secara umum," tulis Microsoft dalam emailnya.
Meski interupsi tersebut dilakukan beberapa hari lalu, Microsoft baru memberhentikan Aboussad pada 8 April. Sementara itu, karyawan kedua yang melakukan unjuk rasa telah dipecat sekitar dua minggu sebelum peristiwa Aboussad.
BACA JUGA:
Karyawan kedua, lebih tepatnya mantan karyawan, adalah Vaniya Agrawal. Ia telah mengirim email kepada ribuan karyawan yang menyerukan pemutusan hubungan kerja dengan Israel. Agrawal juga mengganggu jalannya acara ulang tahun.
Ia menginterupsi salah satu pendiri Microsoft Bill Gates, mantan CEO Steve Ballmer, dan CEO Microsoft Satya Nadella saat berpidato. Tidak diketahui seperti apa email pemecatan Agrawal. Namun, kepada Aboussad, Microsoft mengatakan bahwa ia telah menciptakan gangguan.
"Tindakan Anda yang tidak pantas dirancang untuk mendapatkan perhatian dan menyebabkan gangguan maksimal pada acara yang sangat dinanti ini," tulis Microsoft. "Pada kenyataannya Anda tidak menunjukkan penyesalan atas dampak yang telah dan akan ditimbulkan oleh tindakan Anda."