JAKARTA - Kasus kekerasan seksual di penjara-penjara Israel kembali diungkap ke publik. Ini menjadi kesekian kalinya warga Palestina menjadi korban pelecehan seksual yang terindikasi kuat pelakunya aparat atau tentara Israel.
Mengutip AN, Rabu 13 Mei, kasus ini diungkap New York Times oleh kolumnis Nicholas Kristof yang mengutip kesaksian dari mantan tahanan, organisasi hak asasi manusia, dan temuan yang dirujuk oleh badan-badan PBB.
Kristof yang meminta kesaksian dari 14 pria dan wanita Palestina mendapati adanya sistematisasi pemerkosaan di dalam penjara yang dikelola oleh aparat atau tentara Israel.
Sami al-Sai, 46 tahun, jurnalis yang terdapat dalam laporan itu memberikan kesaksian yang digambarkan Kristof sebagai jenis kekerasan seksual, yang menurut laporan PBB "prosedur operasi standar" Israel dan "elemen utama dalam perlakuan buruk terhadap Palestina."
"Mereka semua memukul saya, dan salah satu dari mereka menginjak kepala dan leher saya," katanya kepada New York Times.
Kesaksiannya menggambarkan secara detail bagaimana para penjaga tahanan di Israel menarik celana dalam korban dan menggunakan pentungan setelah kekerasan seksual itu terjadi.
Seorang tahanan wanita warga Palestina yang memberikan kesaksian lain menuturkan dihina dan dilecehkan setiap hari oleh penjaga pria dan wanita Israel. Korban wanita ini menggambarkan tindakan itu sebagai strategi Israel untuk "menghancurkan semangatnya".
"Mereka meraba-raba seluruh tubuh saya," katanya korban wanita itu.
"Sejujurnya, saya tidak tahu apakah mereka memperkosa saya," katanya, karena terkadang ia kehilangan kesadaran akibat dipukul.
"Saya dilucuti pakaian dan dipukuli beberapa kali sehari. Seolah-olah mereka memperkenalkan saya kepada semua orang yang bekerja di sana. Di awal setiap shift, mereka akan membawa para pria untuk melucuti pakaian saya," sambungnya.
BACA JUGA:
Kesaksian lain menggambarkan secara detail bagaimana seekor anjing digunakan untuk memperkosa seorang tahanan Palestina di penjara Israel.
"Mereka menggunakan kamera untuk mengambil foto, dan saya mendengar tawa dan cekikikan mereka," tulis laporan tersebut.
Laporan kolumnis tersebut telah memicu reaksi keras dari kalangan politisi dan media di Israel.
Kementerian Luar Negeri Israel meresposnya sebagai "fitnah darah" anti-Semit. Menanggapi hal itu, Kristof bertanya-tanya, jika tidak ada yang disembunyikan, mengapa banyak tahanan Palestina ditolak mengunjungi organisasi kemanusiaan Palang Merah hingga pengamat kemanusiaan?
Israel telah menahan 20.000 orang di Tepi Barat saja sejak agresinya ke Gaza mulai 7 Oktober. Sejak saat itu hingga Mei 2026, lebih dari 9.000 warga Palestina masih ditahan Israel . Dari para tahanan itu, banyak yang belum didakwa tetapi ditahan dengan alasan keamanan yang tidak jelas.
Organisasi mendokumentasikan pelanggaran hak asasi manusia yang berada di kawasan pendudukan Israel seperti B’Tselem dan berbagai badan PBB telah menyampaikan kekhawatiran tentang kondisi di fasilitas penahanan hinga penjara-penjara yang dikelola aparat Israel. Mereka juga dmenyerukan penyelidikan independen.
“Pelecehan seksual yang merajalela terhadap tahanan Palestina adalah hal yang biasa; itu telah dinormalisasi,” kata Sari Bashi, seorang pengacara hak asasi manusia Israel-Amerika yang merupakan direktur eksekutif 'Komite Publik Melawan Penyiksaan' di Israel.
“Saya tidak melihat bukti bahwa hal itu telah diperintahkan. Tetapi ada bukti yang terus-menerus bahwa pihak berwenang mengetahui hal itu terjadi dan tidak menghentikannya,” sambungnya.

Kasus pelecehan seksual yang korbannya tahanan Palestina dan pelakunya aparat atau tentara Israel sebelumnya pernah diungkap ke publik.
Kasus itu sempat menggemparkan publik di tengah kebijakan sensor dan pengawasan ketat jurnalis meliput daerah yang dikuasai Israel. Pasalnya lima tentara Israel terekam kamera melakukan pemerkosaan sadis terhadap seorang tahanan Palestina di tempat penahanan militer Israel di Sde Teiman. Rekaman tersebut ditayangkan oleh televisi Israel.
Kasusnya berawal dari Mayor Jenderal Yifat Tomer – Yerushalmi, pengacara militer Israel yang membocorkan rekaman video itu kepada media Channel 12. Sang mayor juga mendakwa lima tentara Israel yang terekam kamera melakukan pemerkosaan tersebut.
Namun, kejadian pada 5 Juli 2024 itu setelah masuk Pengadilan Israel tidak berujung pada vonis ganjaran. Dakwaan terhadap lima tentara tersebut justru dibatalkan pengadilan pada Maret 2026.
Sementara sang mayor, tiba-tiba mengundurkan diri tahun 2025 kemudian ditangkap atas beragam tuduhan, mulai dari penipuan hingga pelanggaran kepercayaan.
Menurut Al Jazeera, kasus pemerkosaan tentara Israel terhadap tahanan Palestina di Sde Teiman ini melibatkan penggunaan pisau hingga terjadi kerusakan pada anus korban.