JAKARTA - Pekerja kantoran di Asia Tenggara sedang menghadapi hari-hari gerah. Cuaca makin panas, sementara AC kantor tak lagi bisa disetel sedingin dulu karena pemerintah mulai mengetatkan penggunaan energi.
Dilansir The Straits Times yang mengutip Bloomberg, Selasa, 28 April, sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara menerapkan aturan suhu di kantor pemerintah sejak perang di Iran mengganggu pasokan energi. Penutupan Selat Hormuz yang berlarut juga menekan cadangan energi dan membuat pemerintah mencari cara berhemat.
Thailand termasuk yang paling terdampak. Suhu dalam beberapa pekan terakhir menembus 40 derajat Celsius. Pemerintah Bangkok beberapa kali mengeluarkan peringatan panas berbahaya.
Sejak Maret, kantor sektor publik di Thailand diminta menyetel AC pada 26-27 derajat Celsius. Bagi sebagian pegawai, suhu itu terasa berat.
“Kadang-kadang bahkan terasa sulit bernapas,” kata Pornpimol Sirimai, pegawai Kementerian Kesehatan Thailand. Ia sampai membeli kipas angin listrik untuk membantu mendinginkan ruangan.
BACA JUGA:
“Kantin, bahkan 7-Eleven di lantai bawah, lebih sejuk daripada kantor kami. Karena itu orang-orang akhirnya berkumpul di sana,” ujarnya.
Panas diperkirakan belum reda. Pola cuaca El Nino bisa memperburuk keadaan. Emi Gui dari Monash University Malaysia menyebut Asia Tenggara menghadapi “pukulan ganda” yakni panas ekstrem, risiko kekeringan, banjir, dan gangguan pertanian.
El Nino juga bisa merusak tanaman seperti padi, sawit, karet, dan gula. Permukaan air bendungan untuk pembangkit listrik dapat turun, justru ketika kebutuhan listrik naik.
Beberapa negara mencoba mengurangi rasa gerah lewat aturan pakaian. Di Filipina, pegawai salah satu kantor transportasi darat boleh memakai kemeja ringan berkerah, bukan pakaian tradisional. Filipina juga mengarahkan kantor pemerintah agar AC tidak disetel di bawah 24 derajat Celsius.
Di bank sentral Filipina, suhu AC dijaga pada 25 derajat Celsius. “Tidak terlalu dingin. Tapi juga tidak panas, cukup,” kata Deputi Gubernur Bank Sentral Elmore Capule.
Malaysia memilih jalur mirip. Pemerintah mendorong penggunaan batik katun dan mewajibkan kantor menyetel AC pada 24 derajat Celsius. Norhisham Khalid, pegawai Kementerian Perdagangan Dalam Negeri dan Urusan Konsumen Malaysia, justru menilai aturan itu masuk akal. Sebelumnya, kata Norhisham, kantor terlalu dingin sampai ada pegawai memakai sweter.
Indonesia belum menetapkan suhu AC tertentu. Namun pegawai di kantor pemerintah dan BUMN menyebut ada pemberitahuan internal untuk menekan penggunaan listrik. Di beberapa tempat, termasuk kompleks parlemen di Jakarta, AC, lampu, dan eskalator dimatikan lebih awal.
Singapura juga meminta lembaga pemerintah mengatur jam operasional AC, lampu, dan lift. Warga diingatkan memakai voucher pemerintah untuk membeli peralatan rumah tangga hemat energi.
Tekanan energi juga terasa di luar kantor. Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina telah menaikkan harga eceran solar dan bensin karena beban subsidi makin berat.
HSBC memperingatkan, jika konflik berlarut dan cuaca makin panas, kawasan ini bisa bergeser dari masalah minyak ke masalah pangan.
Norhisham, yang kini hanya dua hari ke kantor di Putrajaya, Malaysia, memperkirakan bisa menghemat satu tangki bensin per bulan karena tidak menyetir ke kantor. Ia juga menghemat sekitar dua jam perjalanan setiap hari.