JAKARTA - Presiden Lebanon Joseph Aoun mengatakan pada Hari Senin, negosiasi langsung dengan Israel bertujuan untuk mengakhiri perang Israel-Hezbollah, menegaskan mereka yang menyeret Lebanon ke perang adalah pihak yang melakukan pengkhianatan, sindiran terhadap Hizbullah setelah pemimpin kelompok itu menyebut perundingan tersebut sebagai dosa.
"Tujuan saya adalah untuk mengakhiri keadaan perang dengan Israel, serupa dengan perjanjian gencatan senjata" tahun 1949, kata Presiden Aoun dalam pernyataan pada Hari Senin, melansir Al Arabiya dari AFP (27/4).
Lebanon dan Israel, yang secara resmi berperang selama beberapa dekade, menandatangani perjanjian gencatan senjata yang mengakhiri pertempuran antara kedua negara pada tahun 1949, setelah perang Arab-Israel tahun 1948.
"Apakah perjanjian gencatan senjata itu sebuah penghinaan? Saya jamin bahwa saya tidak akan menerima kesepakatan yang memalukan," tegas Presiden Aoun.
Pernyataan Presiden Aoun muncul tak lama setelah pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, mengkritik keras pemerintah, mengeluarkan pernyataan yang menggambarkan negosiasi langsung dengan Israel sebagai "dosa besar."
"Kami secara kategoris menolak negosiasi langsung dengan Israel, dan mereka yang berkuasa harus tahu bahwa tindakan mereka tidak akan menguntungkan Lebanon atau diri mereka sendiri," kata Qassem dalam pernyataan, yang disiarkan oleh saluran TV Al-Manar.
Lebih lanjut Qassem menyerukan kepada pihak berwenang untuk "mundur dari dosa besar mereka yang menempatkan Lebanon dalam spiral ketidakstabilan."
Ia menambahkan, Pemerintah Lebanon "tidak dapat terus berlanjut sementara mereka mengabaikan hak-hak Lebanon, menyerahkan tanah, dan menghadapi rakyatnya yang menentang."
"Kami tidak akan menyerahkan senjata kami dan musuh Israel tidak akan tetap berada di sejengkal pun tanah kami yang diduduki," tambahnya.
Sebelumnya, Duta Besar Lebanon dan Israel untuk AS bertemu dua kali di Washington selama beberapa minggu terakhir, pertemuan pertama dalam beberapa dekade, untuk diskusi yang secara tegas ditolak oleh Hizbullah.
Setelah putaran pertama pembicaraan, Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata 10 hari yang mulai berlaku pada 17 April, kemudian mengumumkan perpanjangan tiga minggu setelah putaran kedua pembicaraan.
Presiden Aoun mengatakan, "apa yang kami lakukan bukanlah pengkhianatan. Sebaliknya, pengkhianatan dilakukan oleh mereka yang membawa negara mereka ke dalam perang untuk mencapai kepentingan asing."
Presiden Aoun sendiri diketahui telah menghadapi kritik keras dari Hizbullah dan para pendukungnya, yang mengatakan dorongannya untuk melakukan pembicaraan langsung dengan Israel tidak memiliki konsensus dari berbagai komunitas di Lebanon.
Ini menandai poin perselisihan terbaru setelah Pemerintah Lebanon memutuskan untuk melucuti senjata Kelompok Hizbullah tahun lalu dan melarang aktivitas militernya pada bulan Maret.
BACA JUGA:
"Beberapa pihak ingin meminta pertanggungjawaban kami atas keputusan untuk melakukan negosiasi dengan alasan bahwa tidak ada konsensus nasional" mengenai pembicaraan tersebut, kata Presiden Aoun.
"Pertanyaan saya kepada mereka adalah: ketika Anda berperang, apakah Anda terlebih dahulu memperoleh konsensus nasional?" tanyanya.
Diketahui, Hizbullah menyeret Lebanon ke dalam perang Timur Tengah pada 2 Maret dengan menembakkan roket ke arah Israel untuk membalas pembunuhan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei dalam serangan AS-Israel.