JAKARTA - Militer Israel pada Hari Selasa mengatakan dalam sebuah pernyataan telah menarik dua prajuritnya dari tugas tempur dan menempatkan mereka dalam tahanan militer selama 30 hari, menyusul perusakan patung Yesus di Lebanon Selatan.
Kepala Staf Israel Defense Forces (IDF) Letnan Jenderal Eyal Zamir mengutuk penodaan patung tersebut sebagai tindakan yang tidak dapat diterima dan kegagalan moral, menurut pernyataan tersebut.
Sebuah foto yang menunjukkan seorang tentara Israel menggunakan sisi tumpul kapak untuk menghancurkan patung Yesus yang jatuh di kayu salib menuai kecaman luas pada Hari Senin dari para politisi Israel, Amerika Serikat dan para pemimpin gereja.
Foto tersebut diunggah oleh Younis Tirawi, reporter Palestina yang juga telah mengunggah gambar-gambar dugaan pelanggaran yang dilakukan tentara Israel di Gaza.
Pernyataan militer mengatakan penyelidikan atas insiden tersebut menunjukkan seorang tentara merusak simbol keagamaan Kristen, sementara yang lain memotret tindakan tersebut, melansir Al Arabiya dari Reuters (22/4).
Enam tentara lainnya hadir tanpa mengambil tindakan atau ikut campur, menurut pernyataan tersebut.
Selain itu, militer Israel mengatakan mereka bekerja sama dengan komunitas setempat untuk mengganti patung tersebut.
Reuters memverifikasi gambar tersebut diambil di Debel, salah satu dari sedikit desa di Lebanon selatan tempat penduduk tetap tinggal selama kampanye militer Israel melawan Hizbullah yang dimulai pada 2 Maret, setelah kelompok militan tersebut menembakkan roket ke Israel untuk mendukung Iran.
Debel adalah salah satu dari puluhan desa di Lebanon selatan yang sekarang berada di bawah pendudukan Israel.
Pekan lalu, Israel dan Lebanon menyetujui gencatan senjata yang dimediasi AS yang bertujuan untuk menghentikan pertempuran antara Israel dan Hizbullah.
Militer Israel telah melakukan penghancuran di desa-desa di selatan, dengan alasan mereka bertindak melawan infrastruktur milik Hizbullah.
BACA JUGA:
Sementara itu kelompok hak asasi manusia mengatakan, jenis hukuman ini relatif jarang terjadi di militer Israel.
Pada tahun 2025, kelompok pemantau konflik Action on Armed Violence mengatakan mereka menemukan Israel telah menutup atau membiarkan 88 persen kasus dugaan pelanggaran di Gaza dan Tepi Barat tidak terselesaikan.
Dalam kasus baru-baru ini, dakwaan terhadap tentara yang dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap tahanan Gaza dibatalkan.