Bagikan:

JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran, tetapi melanjutkan blokade yang dilakukan oleh Angkatan Laut AS.

Perpanjangan gencatan senjata tanpa batas waktu tersebut diumumkan pada Hari Selasa, beberapa jam sebelum gencatan senjata dua pekan yang disepakati sebelumnya berakhir, membuka peluang guna memberikan waktu kedua negara melanjutkan pembicaraan damai.

Dalam sebuah pernyataan di media sosial, Trump mengatakan dia telah menyetujui permintaan Pakistan sebagai mediator untuk menunda serangan dan memperpanjang gencatan senjata.

"Mengingat bahwa Pemerintah Iran sedang mengalami perpecahan yang parah—hal yang tidak terlalu mengejutkan—serta atas permintaan Field Marshal Asim Munir dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dari Pakistan, kami diminta untuk menunda serangan terhadap Iran hingga para pemimpin dan perwakilan mereka dapat mengajukan usulan yang bersatu. Oleh karena itu, saya telah memerintahkan Angkatan Bersenjata kami untuk melanjutkan Blokade dan, dalam segala hal lainnya, tetap siap dan siaga, serta akan memperpanjang Gencatan Senjata hingga saat proposal mereka diajukan, dan pembicaraan diselesaikan, bagaimanapun caranya," tulis Presiden Trump di Truth Social seperti dikutip (22/4).

Perpanjangan gencatan ini di sisi lain menandai perubahan ancaman yang diutarakan Presiden Trump.

Beberapa jam sebelum unggahan media sosialnya, Trump mengatakan bahwa ia menentang perpanjangan gencatan senjata, memperingatkan Iran waktu hampir habis sebelum AS melancarkan serangan besar-besaran terhadap infrastrukturnya, dikutip dari dari Al Jazeera.

Sebelumnya, Ia juga mengancam akan menyerang jembatan, pembangkit listrik dan infrastruktur sipil lainnya di Iran.

Usai pengumuman tersebut, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyampaikan rasa terima kasih karena telah menyetujui perpanjangan gencatan senjata, mengatakan Islamabad akan terus mendorong penyelesaian konflik melalui negosiasi.

"Saya sangat berharap kedua belah pihak akan terus mematuhi gencatan senjata dan dapat menyimpulkan ‘Kesepakatan Perdamaian’ yang komprehensif selama putaran kedua pembicaraan yang dijadwalkan di Islamabad untuk mengakhiri konflik secara permanen," kata PM Sharif dalam unggahan di X.

Kendati ada perpanjangan gencatan senjata, belum jelas apakah Iran bersedia melanjutkan perundingan lantaran dilanjutkannya blokade Angkatan Laut AS.

Kemarin, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut blokade pelabuhan Iran sebagai "tindakan perang" dan pelanggaran gencatan senjata yang ada.

"Iran tahu bagaimana menetralisir pembatasan, bagaimana membela kepentingannya, dan bagaimana melawan intimidasi," kata Menlu Araghchi.

Sedangkan seorang penasihat Ketua Parlemen Iran dan negosiator utama Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan, perpanjangan gencatan senjata adalah "taktik untuk mengulur waktu" bagi serangan mendadak, dikutip dari Al Arabiya dan Reuters.

Penasihat Ghalibaf mengatakan dalam unggahan di X, kelanjutan blokade AS terhadap pelabuhan Iran "tidak berbeda dengan pemboman dan harus ditanggapi dengan respons militer."

Diketahui, Israel bersama AS menyerang ibu kota Tehran dan sejumlah kota di Iran pada 28 Februari, sebelum pengumuman gencatan senjata selama dua pekan oleh Presiden Trump pada 8 April.

Iran membalas dengan melancarkan serangan ke wilayah Israel dan menyasar infrastruktur terkait AS di negara tetangga Timur Tengah, menyebabkan ketegangan regional.

Sedikitnya 3.375 orang tewas akibat agresi Israel-AS, menurut Kepala Organisasi Kedokteran Iran Abbas Masjedi seperti dilaporkan Tasnim, termasuk mendiang Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat sipil dan militer senior.