Gedung Pusat Dukungan Diplomatik Diserang Roket, Dua Drone Ditembak Jatuh dekat Pangkalan Militer AS
Dampak serangan misil di Pangkalan Udara Al-Asad Airbase tahun 2020. (Wikimedia Commons/Spc. Derek Mustard)

Bagikan:

JAKARTA - Dua pesawat tak berawak (drone) yang melintas dengan pangkalan militer Amerika Serikat (AS) ditembak jatuh, setelah sebelumnya fasilitas dukungan diplomatik di Irak di serang roket.

Ini bukan kali pertama pangkalan militer yang juga ditempati oleh pasukan internasional pimpinan AS di Irak, mendapatkan ancaman. Sebelumnya, pangkalan ini pernah mendapatkan serangan secara langsung.

"Sistem pertahanan udara di Pangkalan Udara Al-Asad, salah satu pangkalan militer terbesar dan tertua di Irak, mencegat dan menembak jatuh drone," sebut militer Irak dalam pernyataannya seperti melansir Al Arabiya Senin 7 Mei. 

Peristiwa terjadi beberapa jam setelah Pusat Dukungan Diplomatik Baghdad (BDSC) di ibukota Irak, Baghdad diserang oleh satu roket. Fasilitas tersebut berada di bawah pengelolaan Bagian Manajemen Kedutaan Besar AS di Irak.  

"Roket itu menghantam dekat BDSC dan tidak menyebabkan cedera atau kerusakan. Serangan itu sedang diselidiki," tulis Juru Bicara Koalisi Koalisi Pimpinan AS Kolonel Wayne Marotto seperti melansir CNN

Dalam cuiatn lain Marotto mengatakan, setiap serangan terhadap pemerintah Irak, Wilayah Kurdistan Irak dan koalisi, merusak otoritas institusi Irak, supremasi hukum, dan kedaulatan nasional Irak.

Tidak jelas siapa yang meluncurkan drone di atas pangkalan atau siapa yang berada di balik serangan roket di BDSC.

Tahun lalu, pangkalan udara Al-Asad diserang dengan rudal oleh Iran sebagai tanggapan atas serangan di dekat bandara Baghdad yang menewaskan komandan militer paling kuat Iran, Qasem Soleimani.

Sementara, Provinsi Anbar, tempat pangkalan itu berada, adalah sarang aktivitas ISIS di Irak barat antara 2014 dan 2017.

Diketahui, Pemerintahan Presiden Joe Biden memutuskan penarikan pasukan AS dari Irak, seiring dengan perkembangan pasukan keamanan Irak yang lebih baik dan ancaman ISIS berkurang. 

AS memiliki sekitar 2.500 tentara di Irak sebagai bagian dari 'Operation Inherent Resolve', koalisi global untuk mengalahkan sisa-sisa kekhalifahan ISIS yang sebelumnya menguasai sebagian Irak dan Suriah.

"Pasukan sekarang telah beralih ke tugas pelatihan dan penasehat, sehingga memungkinkan untuk penarikan kembali pasukan yang tersisa dari Irak," kata pernyataan bersama AS-Irak April lalu.