Ramadan 2021: Masjid Bersejarah di Irak Ini Kembali Dibuka untuk Buka Bersama dan Tarawih
Masjid Sheikh Abdul Qader Al-Gailani. (Wikimedia Commons/Mustafa Waad Saeed)

Bagikan:

JAKARTA - Masjid Sheikh Abdul Qader Al-Gailani (Abdul Qadir Al-Jilani)  yang berusia ratusan tahun, kembali pintu-pintunya untuk jamaah dan menawarkan makanan berbuka puasa dari dapurnya selama Ramadan 2021 ini.

Dapur masjid di Baghdad, Irak yang didirikan pada abad ke-12 ini disibukkan dengan memasak makanan khas setempat, sup ayam kental dalam panci baja besar. Sebagian lainnya menyiapkan pengemasan dan meja di ruang makan.

Di luar, staf menggelar sajadah merah di lantai marmer yang baru dibersihkan di halaman dalam Masjid dan Makam Sheikh Abdul Qader Al Gailani.

"Baghdad memiliki atmosfer Ramadhannya sendiri, tetapi di tempat ini atmosfer spiritualnya istimewa dan unik," kata muazin masjid tersebut, Qais Al Adhami, kepada sesaat sebelum menyerukan Salat Maghrib, yang menandai berakhirnya puasa, melansir The National News.

"Selama Ramadan, dapur Masjid Al Kheirat menawarkan makanan berbuka puasa bagi orang miskin untuk melestarikan tradisi berabad-abad yang dimulai hampir 480 tahun yang lalu," kata Al Adhami saat puluhan jamaah berkumpul.

Meskipun Irak berada di tengah gelombang kedua COVID-19, pihak berwenang melonggarkan pembatasan masjid selama Ramadan tahun ini, memungkinkan salat lima waktu selain salat tarawih khusus yang dilakukan pada malam hari selama Ramadan.

Masjid Al Jailani
Salah satu sudut Masjid Al Gailani. (Wikimedia Commons/Ahmad M. Rasheed)

Pelonggaran pembatasan memungkinkan Masjid Al Gailani dan dapurnya untuk membuka kembali pintunya bagi jamaah dan mereka yang kurang beruntung, yang jumlahnya meningkat selama setahun terakhir karena krisis ekonomi negara, akibat anjloknya harga minyak dan peraturan virus corona.

Kompleks masjid yang luas ini awalnya adalah sekolah agama yang dikenal sebagai Bab Al Azj, didirikan pada tahun 1146 oleh Sheikh Abu Saied Al Mubarak bin Ali Al Makhrami.

Sekolah tersebut diserahkan kepada murid Al Makhrami, Sheikh Al Gailani setelah kematiannya pada tahun 1165. Al Gailani dimakamkan di kompleks masjid.

Di sisi timur Tigris, masjid Sunni Sufi di salah satu lingkungan lama Baghdad mendapatkan namanya, Bab Al Sheikh, dari Sheikh Al Gailani yang dihormati oleh Sunni dan Syiah.

Selain makam Syekh Al Gailani dan kedua putranya, kompleks masjid terdiri dari masjid dan Perpustakaan Qadiriya, yang menampung ribuan buku dan manuskrip langka dalam studi Islam.

Al Adhami, seorang pengawas pendidikan di Kementerian Pendidikan, telah menjadi muazin masjid selama 27 tahun setelah mewarisi peran dari ayahnya.

"Setiap Ramadan, jamuan makan diadakan dan orang-orang senang menghabiskan waktu di sini untuk berbuka puasa dan berdoa dalam suasana spiritual," kenangnya.

ilustrasi iftar
Ilustrasi menu buka puasa. (Wikimedia Commons/DžinDžek)

Masjid menjalankan dapur lain di seberang jalan, yang katanya melayani orang miskin dua kali makan sehari sepanjang tahun. Selain sup, makanannya termasuk sepiring nasi dengan daging, roti, yoghurt, dan buah.

"Ada lebih dari 400 orang yang terdaftar untuk menerima makanan dan bantuan keuangan dari masjid, selain ratusan lainnya yang berkunjung secara teratur," tutur Al Adhami.

Pemerintah melonggarkan pembatasan tahun ini untuk mengizinkan orang berjalan ke masjid terdekat selama Ramadhan, untuk melakukan sholat, termasuk Tarawih.

"Jumlah yang hadir untuk buka puasa di dalam masjid lebih sedikit dari sebelumnya. Hanya mereka yang tinggal di sekitar yang datang, sekitar 250 jamaah sehari, karena lockdown yang dimulai segera setelah matahari terbenam. Dulu orang miskin datang dari semua daerah, bahkan dari provinsi lain," paparnya.

Salah satu keluarga yang hadir ke masjid ini adalah keluarga Zihoor Askar Mohammed yang pindah dari Bab Al Sheikh ke distrik Karrada di Baghdad pada 1980-an. Tapi, dia masih mengunjungi mausoleum selama Ramadan.

"Ramadan adalah bulan yang diberkati dan saya di sini hari ini untuk berdoa bagi orang-orang yang sakit, untuk Irak dan rakyatnya, untuk Islam dan semua Muslim di mana pun," tukas ibu rumah tangga berusia 56 tahun itu setelah berdoa di makam.

"Kami selalu datang ke sini selama Ramadan untuk sholat, terutama pada Lailatul Qadar," imbuhnya.