Roket Katyusha Hantam Pangkalan Militer Pasukan Amerika Serikat dekat Bandara Irak
Ilustrasi militer Amerika Serikat di Irak. (Wikimedia Commons/US Navy/Petty Officer 2nd Class Eli J. Medellin)

Bagikan:

JAKARTA - Sebuah roket Katyusha menghantam pangkalan militer Irak yang menampung pasukan Amerika Serikat di dekat bandara internasional Baghdad, Irak pada Rabu, kata sumber keamanan dan militer setempat.

Sebuah pernyataan militer Irak mengatakan, mereka menemukan sebuah peluncur roket dengan satu roket di distrik al-Jihad di Baghdad barat dekat bandara.

Kendati demikian, sumber mengatakan bahwa tidak ada yang terluka dalam insiden serangan roket tersebut, mengutip Reuters 5 Januari.

Sementara itu, para pejabat Amerika Serikat telah memperingatkan dalam beberapa pekan terakhir, mereka memperkirakan peningkatan serangan terhadap pasukan Amerika Serikat di Irak dan Suriah, sebagian karena peringatan tahun kedua pembunuhan jenderal top Iran Qassem Soleimani.

Meskipun tidak ada klaim tanggung jawab langsung atas serangan baru-baru ini, kelompok-kelompok milisi Irak yang bersekutu dengan Iran bersumpah untuk membalas karena membunuh Soleimani dan komandan milisi Irak Abu Mahdi al-Muhandis.

Serangan Hari Rabu adalah yang kedua minggu ini yang menargetkan pangkalan di dekat bandara internasional Baghdad, setelah serangan oleh dua pesawat tak berawak digagalkan pada Hari Senin.

Dua drone bermuatan bahan peledak juga ditembak jatuh pada hari Selasa oleh pertahanan udara Irak ketika mereka mendekati pangkalan udara Ain al-Asad, yang menampung pasukan AS, di sebelah barat Baghdad.

Untuk diketahui, Soleimani dan al-Muhandis terbunuh pada 3 Januari 2020 dalam serangan pesawat tak berawak di dekat bandara Baghdad yang diperintahkan oleh AS saat itu, Donald Trump.

Presiden Iran Ebrahim Raisi mengatakan pada Hari Senin, Donald Trump harus diadili atas pembunuhan itu atau Teheran akan membalas dendam. Sebelumnya, pejabat peradilan Iran telah berkomunikasi dengan pihak berwenang di sembilan negara setelah mengidentifikasi 127 tersangka dalam kasus tersebut, termasuk 74 warga negara AS, Jaksa Agung Mohammad Jafar Montazeri mengatakan kepada televisi pemerintah.

"Mantan presiden kriminal (Trump) ada di daftar teratas," ungkapnya.