JAKARTA - Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon membuka pembicaraan ulang kerja sama budaya Indonesia–Jerman, dari pembaruan nota kesepahaman (MoU) hingga percepatan repatriasi objek bersejarah. Agenda itu dibahas dalam pertemuan bilateral dengan Duta Besar Republik Federal Jerman untuk Indonesia, Ralf Beste, di kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Selasa, 24 Februari.
Fadli menilai kerangka kerja sama lama sudah perlu disesuaikan. Ia merujuk Agreement on Cultural Cooperation yang disebut berjalan sejak 1988. “Kami ingin memperkuat kerja sama dengan Republik Federal Jerman… mungkin ini saatnya untuk kita perbaharui kerja sama tersebut,” ujar Fadli.
Selain MoU, Fadli mendorong penguatan platform hubungan antarmasyarakat lewat pusat kebudayaan, termasuk Rumah Budaya Indonesia. Ia menyebut Indonesia saat ini memiliki Rumah Budaya Indonesia di KBRI Berlin.
Isu paling sensitif yang ikut diangkat adalah rencana diskusi tentang repatriasi sejumlah fosil yang berada di Jerman. Fadli menyebut 13 fosil Manusia Purba Sangiran yang berada di Museum Senckenberg sebagai salah satu topik yang akan didorong lewat dialog. Pemerintah, kata dia, juga membahas peluang co-production film tentang Georg Eberhard Rumphius, naturalis Jerman yang tinggal di Ambon.
BACA JUGA:
Ralf Beste, yang disebut mulai menjabat pada akhir 2025, menyambut usulan pembaruan kerja sama itu. “Bidang kebudayaan seperti sejarah, film, buku, serta diskusi repatriasi… perlu kita bangun kerangkanya melalui pendekatan yang berbeda… Kerja sama di bidang permuseuman juga tidak kalah pentingnya,” kata Beste.
Dalam pertemuan tersebut, Fadli didampingi Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Endah T.D. Retnodwiastuti serta Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Industri Kebudayaan Anindita Kusuma Listya.
Menutup pertemuan, Fadli menyatakan kesiapan menyambut kunjungan kenegaraan Presiden Republik Federal Jerman Frank-Walter Steinmeier ke Indonesia pada 9 Maret 2026, serta rencana pertemuan dengan Direktur Frankfurt Book Fair yang disebut ikut dalam rombongan.