SALATIGA – Indonesia resmi menjadi tuan rumah Konferensi UISPP 2025 bertema “Asian Prehistory Today: Bridging Science, Heritage, and Development”, yang dibuka Senin, 27 Oktober oleh Fadli Zon, Menteri Kebudayaan RI. Konferensi berlangsung di kampus Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga dan menjadi bagian dari agenda internasional Union Internationale des Sciences Préhistoriques et Protohistoriques (UISPP).
Momen ini tidak sekadar akademik. Menbud Fadli menegaskan, konferensi ini menempatkan Indonesia dan Asia sebagai pusat pergerakan peradaban manusia—mulai dari pengolahan logam hingga migrasi lintas laut. Di hadapan para peserta internasional, ia mengatakan, “Indonesia bangga menjadi tuan rumah konferensi ini karena nilai yang dibahas lebih luas dari sekadar warisan nasional kita. Ini adalah catatan prasejarah bersama Asia, dan dalam banyak hal, dunia”.
Konferensi ini menghadirkan ilmuwan, peneliti, konservator, dan praktisi dari puluhan negara untuk meninjau kajian prasejarah Asia dan warisan budaya global. Selain Indonesia, Asia Tenggara jadi sorotan utama. Selama 10 hari (27 Oktober–6 November 2025) di Salatiga, Sangiran, hingga Yogyakarta, peserta akan mengikuti simposium, seminar, pameran, dan penelusuran situs warisan dunia UNESCO.
Dalam pembukaan, Fadli mengumumkan rencana repatriasi koleksi fosil Homo erectus dari Belanda—28.131 fosil dari Jawa dan Sumatra—yang menjadi “tonggak historis” bagi Indonesia. Ia juga menunjuk gua gua prasejarah di Sulawesi, Sumatra, dan Kalimantan sebagai bukti keragaman peradaban Indonesia yang harus dilestarikan.
BACA JUGA:
Tema konferensi menekankan sinergi antara sains, warisan budaya, dan pembangunan sebagai kunci memperkuat posisi Indonesia di komunitas ilmiah internasional. Fadli mengingatkan bahwa negara wajib memajukan kebudayaan nasional sesuai Pasal 32 UUD 1945 dan menegaskan bahwa budaya adalah “soft power” untuk dialog dan transformasi ekonomi.
Acara ini juga dihadiri oleh Presiden UISPP Jacek Kabaciński yang menyambut kehadiran delegasi dari 40 negara dan berharap diskusi selama konferensi bisa produktif.
Dengan menggabungkan riset prasejarah dan diplomasi budaya, konferensi ini bisa menjadi pintu masuk baru bagi Indonesia dalam memimpin penelitian warisan budaya di Asia dan dunia.