JAKARTA - Pemerintah menilai promosi budaya Indonesia di luar negeri tak bisa hanya mengandalkan acara seremonial. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menerima kunjungan Werner Weiglein, pendiri Museum Papua di Gelnhausen, Jerman, yang selama puluhan tahun mengoleksi dan mempromosikan warisan budaya Nusantara di Eropa. Pertemuan berlangsung di kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Selasa (24/2).
Weiglein dikenal sebagai pemerhati budaya Indonesia yang membangun Museum Papua dengan koleksi etnografi Papua yang dinilai penting untuk memperkenalkan Indonesia ke publik internasional. Fadli menilai upaya dokumentasi yang dilakukan Weiglein memberi nilai tambah karena tidak berhenti pada pengumpulan benda.
“Beliau mendata koleksi ini sekaligus menuliskannya menjadi narasi yang cukup lengkap,” ujar Fadli. Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan Bambang Wibawarta juga mengapresiasi koleksi tersebut.
Weiglein mulai mengoleksi artefak budaya sejak 1970-an. Pada 1980-an, ia melakukan perjalanan dan ekspedisi ke sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Sulawesi dan Papua. Pengalaman itu ia tulis dan dokumentasikan sebagai rekam jejak kebudayaan yang ia temui.
BACA JUGA:
Dalam pertemuan itu, Fadli juga menyinggung buku karya Weiglein berjudul Expeditionen durch Indonesien yang ditulis bersama Herwig Zahorka. Buku tersebut memadukan foto dan narasi tentang keragaman sosial-budaya Indonesia. Weiglein menegaskan seluruh foto dalam buku itu merupakan dokumentasi pribadinya. “Kita bisa melakukan lebih dari ini dan semua foto dalam buku ini adalah foto sendiri,” kata Weiglein.
Selain aktif di kebudayaan, Weiglein juga dikenal sebagai pemegang rekor pendakian ke Puncak Carstensz di Pegunungan Jayawijaya sebanyak 36 kali, fakta yang, bagi pemerintah, menunjukkan kedekatannya dengan Indonesia bukan sekadar formalitas.
Diskusi itu turut dihadiri Dirjen Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Endah T.D. Retnoastuti, Staf Ahli Menbud Bidang Ekonomi dan Industri Kebudayaan Anindita Kusuma Listya, serta Staf Khusus Bidang Protokoler dan Rumah Tangga Rachmanda Primayuda.
Fadli menegaskan pemerintah membuka ruang kolaborasi dengan mitra internasional, termasuk individu yang konsisten mempromosikan Indonesia. “Kita juga menghargai orang-orang asing yang mempunyai minat dan bahkan mempromosikan Indonesia, budaya Indonesia, ke dunia, ke Jerman, dan juga ke wilayah Eropa lainnya,” pungkasnya.