JAKARTA – Pemerintah bersiap menaikkan alokasi Dana Abadi Kebudayaan pada 2026. Namun, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan peningkatan dana tidak akan berdampak signifikan jika akses bagi pelaku seni dan budaya tetap rumit dan eksklusif.
Pernyataan itu disampaikan Fadli Zon dalam rapat Dewan Penyantun Dana Abadi Pendidikan 2026 di Kemenko PMK, Jakarta, Selasa (13/1). Ia menyoroti masih sulitnya pelaku budaya—terutama komunitas adat—mengakses dana abadi akibat prosedur digital yang kaku dan birokratis.
“Dana ada, tapi aksesnya belum ramah. Ini masalah nyata di lapangan,” kata Fadli.
Ia menekankan kebudayaan harus diposisikan sebagai penggerak ekonomi sekaligus soft power nasional. Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan budaya kelas dunia, termasuk temuan lukisan gua tertua berusia sekitar 51.200 tahun, yang dapat memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi budaya global.
BACA JUGA:
Karena itu, Fadli mengusulkan perluasan prioritas bidang STEM menjadi STEAM, dengan penekanan pada seni. Langkah ini dinilai penting untuk menyiapkan ahli museum dan pakar kebudayaan, sejalan dengan agenda revitalisasi museum sebagai pusat budaya dan ekonomi.
Sementara itu, Plt Direktur Utama LPDP Sudarto menyampaikan proyeksi pendanaan 2026 menggunakan asumsi konservatif, namun membuka peluang realisasi lebih agresif melalui skema soft budget constraint yang dievaluasi sepanjang tahun.
Menko PMK Pratikno menambahkan, pengembangan SDM nasional tak cukup hanya mencetak talenta, tetapi juga mempertahankan dan mengintegrasikannya dengan industri strategis. Ia mendorong pembentukan satuan tugas beasiswa dan riset agar selaras dengan target pembangunan jangka panjang.
Rapat ini menegaskan kalau dana bertambah, tetapi dituntut lebih inklusif, berdampak, dan langsung menyentuh pelaku budaya.