JAKARTA - Kisah kemanusiaan dari Indonesia ditampilkan dalam panggung internasional melalui "Sisa-Sisa", pertunjukan tari kontemporer karya dua seniman berdarah Indonesia, Murtala dan Alfira O’Sullivan dalam gelaran Sydney Festival.
Keikutsertaan dua seniman Indonesia ini menjadi kebanggaan, lantaran gelaran Sydney Festival tahun ini genap berusia 50 tahun. Ini merupakan salah satu festival paling bergengsi di Australia.
Menghadirkan dua karya solo yang berangkat dari pengalaman personal dan ingatan kolektif, Sisa-Sisa
menjadi refleksi artistik tentang trauma, kehilangan, migrasi, serta ketahanan manusia.
"Gelumbang Raya" karya Murtala menelusuri kembali pengalamannya sebagai relawan pasca-tsunami Aceh 2004, perjalanan batin yang merekam duka, trauma dan keteguhan untuk terus bertahan.
Sementara, "Jejak & Bisik" karya Alfira O’Sullivan mengeksplorasi tubuh perempuan melalui tema fertilitas, perimenopause, keibuan dan penuaan, yang diolah menjadi refleksi mendalam tentang siklus
kehidupan dan identitas.
Pertunjukan ini semakin kuat dengan komposisi musik orisinal karya Gondrong Gunarto, yang menghadirkan lanskap bunyi sebagai elemen penting dalam membangun suasana reflektif dan emosional sepanjang pementasan.
Berangkat dari pengalaman hidup yang autentik, Sisa-Sisa menghadirkan kehangatan di tengah kisah trauma, membuka ruang empati antara seniman dan penonton lintas budaya.

Pendekatan ini menjadikan pertunjukan tersebut relevan dan bermakna bagi audiens Australia, sekaligus memperkuat dialog budaya melalui seni pertunjukan.
"Pertunjukan ini terasa sangat powerful karena berangkat dari pengalaman yang nyata dan sangat relatable. Vibe kehangatan terasa di sela-sela penampilan, dan karya ini dengan indah membawa budaya kontemporer Indonesia ke hadapan audiens di Australia," ujar Wiwid Howat (35), salah satu
penonton yang mengapresiasi kekuatan artistik "Sisa-Sisa".
Resonansi pertunjukan ini juga dirasakan oleh audiens internasional lainnya. Carol (41), penonton yang tinggal di Australia, menggambarkan "Sisa-Sisa" sebagai pengalaman yang kuat, intim, dan menyentuh secara emosional.
"Pertunjukan ini sangat kuat dan menyentuh. Perpaduan musik dan ritmenya terasa menenangkan," tuturnya.
Carol, yang pernah mengunjungi Indonesia, turut mengapresiasi kekayaan ekspresi budaya Indonesia
melalui seni, musik, makanan, serta nilai kekeluargaan yang tercermin dalam pertunjukan.
"Sisa-Sisa" menjadi pengalaman pertamanya menyaksikan seni kontemporer Indonesia. Ia bersyukur Sydney menyediakan ruang untuk merayakan keberagaman budaya dunia.
Terkait partisipasi "Sisa-Sisa" dalam Sydney Festival 2026, Konsul Jenderal Republik Indonesia di Sydney Pendekar Muda Leonard Sondakh mengapresiasi karya tersebut sebagai representasi kualitas dan kedalaman ekspresi seniman Indonesia.
"Sisa-Sisa merupakan karya yang membanggakan, yang menunjukkan bagaimana seniman Indonesia mampu menghadirkan pengalaman personal dan memori kolektif menjadi bahasa seni yang kuat dan
relevan bagi audiens global," jelas Konjen RI.
"Inilah bentuk diplomasi budaya yang hidup, humanis, dan menjembatani dialog antarbangsa," tandasnya.
BACA JUGA:
Kehadiran Konjen RI dan dukungan KJRI Sydney turut memperkuat suasana kehangatan khas Indonesia di sela-sela pertunjukan.
Melalui sentuhan tarian, musik, dan kuliner, dukungan ini memperkaya pengalaman audiens sekaligus menegaskan peran seni dan budaya sebagai jembatan dialog antarbangsa.
Partisipasi Sisa-Sisa dalam Sydney Festival 2026 mencerminkan kontribusi aktif seniman Indonesia dalam percakapan seni global, sekaligus memperkuat diplomasi budaya Indonesia melalui pendekatan yang humanis, inklusif dan berakar pada pengalaman hidup.