Bagikan:

JAKARTA – Polda Metro Jaya melakukan rekonstruksi kasus penculikan dan pembunuhan Kepala Cabang (Kacab) Bank BUMN, Mohamad Ilham Pradipta (37), yang ditemukan tewas di persawahan Kampung Karangsambung, Bekasi, pada Kamis 21 Agustus 2025 lalu. Rekonstruksi ini mengungkap bahwa aksi penculikan dirancang secara matang.

Penyidik Ipda Tugianto menjelaskan, rekonstruksi menghasilkan 57 adegan, bertambah dari rencana awal 47 adegan.

“Pertambahan adegan terkait pemindahan korban dari mobil Avanza ke Fortuner, pemberian uang ke eksekutor, serta adanya perbedaan keterangan dari para tersangka,” katanya kepada media di Polda Metro Jaya, Senin, 17 November.

Rekonstruksi menunjukkan rangkaian aksi terencana yang dimulai sejak para tersangka berkumpul hingga berakhir di lahan kosong di wilayah Bekasi.

Berawal ketika Erasmus Wawo dan kelompoknya berkumpul di sebuah warkop. Sesuai kesepakatan, hari itu mereka memutuskan mengeksekusi penculikan terhadap kepala cabang bank yang sudah lama mereka incar.

Dari sinilah Kopda FH menyerahkan uang Rp350 ribu kepada Reviando Aquinas Handi untuk membeli perlengkapan seperti lakban, handuk kecil, masker, dan beberapa bungkus rokok.

Setelah persiapan rampung, lima orang — Erasmus Wawo, Andre Tomatala, Johannes Ronald Sebenan, Emanuel Woda Bertho, dan Reviando Aquinas Handi — berangkat menggunakan Avanza putih.

Kopda FH memilih menggunakan Calya bersama Serka FY. Dua mobil itu melaju menuju Lotte Mart, dengan mobil FH berada di depan dan Avanza mengikuti di belakang.

Dalam perjalanan, Avanza sempat berhenti. Erasmus Wawo turun dan menutup dua digit pelat nomor mobil dengan lakban hitam.

Setelah itu, rombongan melanjutkan perjalanan. Setiba di lokasi, Emanuel Woda Bertho melakukan tapping untuk masuk parkiran. Tak lama kemudian, mobil Ertiga hitam milik korban ikut masuk dan terparkir.

Avanza putih menunggu di belakang mobil korban. Ketika MIP muncul dan berjalan menuju kendaraannya, Kopda FH mengabari Erasmus Wawo bahwa target sudah tiba.

Erasmus Wawo dan Andre Tomatala segera turun dan memaksa korban masuk ke Avanza.

Korban meronta, namun Reviando Aquinas Handi menarik kerah bajunya, sementara Andre Tomatala memegang tubuh sebelah kiri korban dan Erasmus Wawo menutup mata serta mulutnya dengan lakban.

Begitu mobil bergerak, Erasmus Wawo mengabari Kopda FH bahwa korban berhasil diambil.

Dalam perjalanan melewati depan Kodam Jaya, korban kembali berontak. Erasmus Wawo menahan dan memukul paha korban tiga kali, kemudian menghantam jidatnya sambil mengancam.

Tak lama, korban kembali didesak dengan lutut. Erasmus lalu menghubungi FH dan sepakat bertemu di Kemayoran.

Di lokasi pertemuan, Avanza bertemu Fortuner hitam yang dikemudikan Umri dan berisi Johanes Joko serta Mochamad Nasir.

Nasir sempat meminta agar korban dipindahkan setelah berputar-putar ke Tanjung Priok, namun Erasmus menolak karena semakin lama korban ditahan, semakin besar risikonya.

Tangan korban kemudian diikat. Erasmus memanggil Johanes Joko untuk membantu memindahkan korban ke Fortuner. Saat itu korban sempat berteriak, “tolong, ini penculikan,” namun mulutnya kembali ditutup. Paha korban ditendang dua kali sebelum pintu mobil ditutup.

Setelah pemindahan, Kopda FH menyerahkan uang Rp45 juta kepada Erasmus Wawo sebagai bayaran penculikan. Uang itu kemudian dibagi kepada lima anggota yang terlibat langsung.

Di dalam Fortuner, kondisi korban mulai lemah. Hanya terdengar erangan kecil dan sedikit gerakan tangan. Di tengah perjalanan menuju Cikarang, posisi sopir digantikan David Setia Darmawan.

Sekitar pukul 00.30 WIB, Fortuner tiba di lahan kosong di wilayah Kabupaten Bekasi. Di sana, korban diturunkan. Mochamad Nasir melilitkan handuk ke leher korban, menarik tubuhnya keluar, menyeret, lalu melemparkannya ke tanah.

Setelah pembuangan selesai, para pelaku menuju SPBU untuk berganti pakaian.

Rombongan kemudian berkumpul di sebuah kafe di kawasan Cibubur — Anton, Dwi Hartono, Rochmat, Johanes Joko, dan Nasir — untuk membahas hasil penculikan yang disebut tidak berjalan sesuai rencana.

Saat itu, Dwi Hartono menerima telepon dari seseorang bernama Ken yang memberi kabar bahwa korban ditemukan meninggal dan kasusnya sudah viral. Mendengar hal itu, Joko langsung mengambil ponselnya dan membuangnya.

Diketahui, motif utama para pelaku adalah kejahatan keuangan. Mereka berusaha memanfaatkan kewenangan korban sebagai kepala cabang untuk memindahkan dana dari rekening dormant (rekening pasif) ke rekening yang sudah mereka siapkan.

Karena korban menolak memenuhi permintaan tersebut, ia diculik dan kemudian dianiaya hingga meninggal dunia.

Polisi telah menetapkan sekitar 15 tersangka dan membagi mereka ke dalam beberapa klaster sesuai perannya masing-masing.

Caption foto:

Proses rekonstruksi penculikan Kacab Bank BUMN di Polda Metro Jaya, Senin 17 November 2025.