Bagikan:

JAKARTA - Sebagai penjaga pohon zaitun tertua di Tepi Barat, Salah Abu Ali, rajin merawat dan memanen buahnya. Bahkan tetap dilakukannya di tengah ancaman penyiksaan dan kekerasan yang dialami warga Palestina di Tepi Barat.

"Ini bukan pohon biasa. Kita berbicara tentang sejarah, tentang peradaban, tentang sebuah simbol," ujar Abu Ali  tersenyum di balik janggut tebalnya di Desa Al-Walajah, selatan Yerusalem, Tepi Barat, dikutip dari AFP.

Pria berusia 52 tahun itu dengan bangga mengatakan, para ahli memperkirakan pohon zaitun itu berusia antara 3.000 hingga 5.500 tahun. 

Umumnya tinggi pohon zaitun dewasa mencapai tiga meter. Pohon zaitun tertua ni membumbung tinggi di atas pohon-pohon zaitun lain di sekitarnya.

Batang utamanya selebar hampir dua meter menjulang dilengkapi belasan cabang menjulur daun-daun yang rimbun. 

Beberapa langkah dari sana, tembok pemisah setinggi lima meter dimahkotai kawat berduri dibangun Israel untuk mengasingkan warga Palestina dan Israel di Tepi Barat. 

Abu Ali dianggap sedang menjaga oasis kecil yang telah bertahan selama ribuan tahun menghadapi kekeringan di tanah gersang Desa Al-Walajah. 

Lebih dari separuh tanah asli desa yang dihuni Abu Ali di Al-Walajah, terletak di sisi terjauh tembok keamanan Israel itu

Sepanjang tahun ini, Al-Walajah terhindar dari serangan pemukim ilegal Israel yang kerap merusak panen zaitun warga Palestina di Tepi Barat. Perusakan yang acap kali menimbulkan korban luka-luka warga Palestina. 

Jericho wilayah Tepi Barat di Palestina. (Pexels-Michalis Pafralis)

Israel telah menduduki Tepi Barat sejak tahun 1967. Sekitar 500 ribu pemukim ilegal Israel tinggal di wilayah Palestina tersebut.

Pemukim ilegal itu hampir setiap hari, sepanjang 2025, menyerang petani sekaligus pohon zaitunnya, tepatnya sejak musim dimulai pada pertengahan Oktober 2025.

Komisi Penjajahan dan Perlawanan Tembok Otoritas Palestina, yang berkantor pusat di Ramallah, telah mendokumentasikan 2.350 serangan semacam itu di Tepi Barat, hanya pada bulan Oktober 2025 saja. 

Namun, hampir tidak ada pelaku yang dimintai pertanggungjawaban oleh otoritas Israel terkait serangan terhadap petani warga sipil Palestina itu.

Pasukan Israel justru sering memakai gas air mata membubarkan warga Palestina yang sedang santai duduk-duduk di Tepi Barat, atau memblokir akses petani ke tanah mereka sendiri, sebagaimana disaksikan oleh jurnalis AFP dalam beberapa kesempatan.

Namun di Al-Walajah, untuk saat ini, Abu Ali masih dapat leluasa merawat pohon zaitun tertua itu.

Pada tahun yang baik, katanya, pohon tersebut dapat menghasilkan 500 hingga 600 kilogram (1.100 hingga 1.300 pon) buah zaitun.

Untuk tahun ini, curah hujan rendah, menyebabkan hasil panen pohon zaitun di Tepi Barat menurun.

“Pohon ini telah menjadi simbol ketahanan Palestina. Pohon zaitun mewakili rakyat Palestina sendiri, yang telah berakar di tanah ini selama ribuan tahun,” kata Wali Kota Al-Walajah, Khader Al-Araj.

Kementerian Pertanian Palestina, mengakui pohon yang dirawat Abu Ali sebagai landmark alam Palestina. Abu Ali juga dianggap resmi sebagai perawat kehidupan pohon tersebut. 

Israel menghancurkan rumah, toko, jalan, infrastruktur air, pembuangan limbah, dan listrik di Tepi Barat Palestina di tengah ribuan warga sipil yang sulit mendapatkan makanan. (X UNISPAL)

"Emas hijau" 

Abu Ali mengatakan, minyak yang dihasilkan pohon zaitun mempunyai banyak manfaat. Ia bilang, nilainya juga menguntungkan.

“Minyak dari pohon ini luar biasa. Semakin tua pohonnya, semakin kaya minyaknya,” kata Abu Ali.

Menurutnya, minyak zaitun sumber daya berharga. Abu Ali  menyebutnya sebagai “emas hijau”, lantaran harganya 4-5 kali lipat lebih mahal daripada minyak biasa.

Dahulu, para wisatawan berbondong-bondong datang untuk melihat pohon zaitun tertua di Tepi Barat yang dirawat  Abu Ali. Namun, jumlahnya terus berkurang sejak Israel melakukan invasi darat di Gaza pada Oktober 2023.

Termasuk biang keladinya, kata Abu Ali, makin ketatnya pos pemeriksaan yang dijaga pasukan Israel di Tepi Barat.

Pohon zaitun dan buahnya. (Unsplash-Michał Kostrzyński)

Desa Al-Walajah sebenarnya tidak sepenuhnya kebal terhadap masalah yang kerap dihadapi penduduk Palestina di Tepi Barat.

Pada tahun 1949, setelah pembentukan Israel, sebagian besar lahan desa di Tepi Barat dirampas, dan banyak keluarga Palestina harus meninggalkan rumah mereka untuk menetap di seberang garis gencatan senjata.

Setelah Israel melakukan pendudukan tahun 1967, sebanyak 66 persen wilayah di Tepi Barat ditetapkan sebagai Area C —di bawah kendali penuh Israel. Hal itu berdasarkan Perjanjian Oslo 1993, yang dimaksudkan untuk mewujudkan perdamaian antara Palestina dan Israel.

Namun, penetapan itu menyebabkan banyak rumah penduduk Pelestina di Tepi Barat dibongkar atas perintah militer Israel dengan dalih tidak memiliki izin, yang menjadi bukti nyata penerapan sistem penjajahan karena Israel membuat aturan sepihak di tanah negara lain.

“Saat ini, Al-Walajah mewujudkan hampir setiap kebijakan Israel di Tepi Barat: permukiman, tembok, pembongkaran rumah, penyitaan tanah, dan penutupan,” ujar Wali Kota Al-Araj. 

Untuk saat ini, Abu Ali terus merawat pohon zaitun tersebut. Ia menanam herba dan pohon buah di sekitarnya. Disiapkannya juga buku tamu berisi pesan-pesan dari para pengunjung dalam puluhan bahasa di dekat pohon zaitun tersebut.

“Saya telah menjadi bagian dari pohon ini. Saya tidak bisa hidup tanpanya,” katanya.