Bagikan:

JAKARTA - Dick Cheney, mantan wakil presiden (wapres) AS pendorong perang Irak, meninggal dunia di usia 84 tahun.

Pria yang menjadi salah satu tokoh penting di balik invasi AS ke Irak pada tahun 2003 ini dianggap oleh para sejarawan kepresidenan sebagai salah satu wakil presiden paling berpengaruh dalam sejarah AS.

Keluarga Cheney dalam sebuah pernyataan pada Selasa 4 November, mengatakan mendiang meninggal akibat komplikasi pneumonia serta penyakit jantung dan pembuluh darah.

Simpatisan Partai Republik sekaligus mantan anggota kongres Wyoming dan menteri pertahanan, telah  menjadi tokoh penting di Washington ketika Gubernur Texas saat itu dijabat George W. Bush.

Bush yang terpilih menjadi Presiden AS dalam Pilpres 2000 kemudian menarik Dick Cheney sebagai wakil presiden.

Sebagai wakil presiden dari tahun 2001-2009, Cheney berjuang keras untuk perluasan kekuasaan kepresidenan, setelah keadaan itu terkikis sejak  skandal Watergate yang menggulingkan mantan bosnya, Richard Nixon, dari jabatannya. 

Ia juga memperluas pengaruh kantor wakil presiden dengan membentuk tim keamanan nasional yang seringkali berfungsi sebagai pusat kekuasaan tersendiri dalam pemerintahan.

Cheney adalah pendukung kuat invasi AS ke Irak dan menjadi salah satu pejabat pemerintahan Bush yang paling vokal menuding Irak mempunyai senjata pemusnah massal. Klaim yang hingga saat ini tidak dapat dibuktikan. 

Cheney bersama Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld, yang pernah menjadi rekan kerja di Gedung Putih era Nixon, merupakan tokoh kunci yang mendorong invasi AS ke Irak tahun 2003.

Menjelang perang, Cheney juga sempat menyatakan kemungkinan adanya hubungan antara Irak, Al-Qaeda, dan serangan 11 September 2001 di AS. Sebuah komisi yang menyelidiki serangan 9/11 kemudian membantah teori Cheney itu.

Saat menjabat sebagai wakil presidan AS, Cheney sempat berselisih dengan beberapa ajudan utama Bush, termasuk Menteri Luar Negeri Colin Powell dan Condoleezza Rice.

Cheney juga pendukung teknik interogasi yang ditingkatkan atau SERE, terhadap tersangka dugaan tindak terorisme. Teknik tersebut mencakup perampasan tidur hingga waterboarding di mana korbannya mengalami sensasi mendekati kematian.

Pihak lain, termasuk Komite Intelijen Senat AS dan pelapor khusus PBB untuk kontraterorisme dan hak asasi manusia, menyebut teknik-teknik ini sebagai "penyiksaan."

Cheney memiliki riwayat penyakit jantung sejak serangan pertama pada usia 37 tahun. Ia kemudian menjalani transplantasi jantung pada tahun 2012.