JAKARTA - Lima juta dari lebih dari enam juta warga Yahudi yang tewas dalam Holocaust kini telah teridentifikasi, dan dengan bantuan kecerdasan buatan (AI), lebih banyak nama lagi dapat ditemukan, ungkap para peneliti Israel pada Hari Senin.
Yad Vashem, World Holocaust Remembrance Center di Yerusalem, mengatakan pencapaian ini menandai tujuh dekade kerja keras dan merupakan inti dari misinya untuk menemukan identitas mereka yang dibunuh oleh Nazi selama Perang Dunia Kedua.
Sekitar satu juta korban Yahudi masih belum diketahui "dan banyak yang kemungkinan akan tetap demikian selamanya," kata Yad Vashem.
Namun, dengan perangkat seperti AI (kecerdasan buatan) dan pembelajaran mesin, Yad Vashem yakin dapat menemukan 250.000 nama lagi dengan menganalisis ratusan juta dokumen yang terlalu luas untuk diteliti secara manual.
Dengan jumlah penyintas Holocaust yang menyusut dan dunia yang akan segera kehilangan saksi mata, Kepala Yad Vashem, Dani Dayan, mengatakan pencapaian lima juta ini merupakan pengingat akan kewajiban yang belum selesai.
"Di balik setiap nama terdapat kehidupan yang berarti - seorang anak yang tak pernah tumbuh dewasa, orang tua yang tak pernah pulang, suara yang dibungkam selamanya," kata Dayan, melansir Reuters 4 November.
"Adalah kewajiban moral kita untuk memastikan setiap korban dikenang agar tak seorang pun tertinggal dalam kegelapan anonimitas," tandasnya.
Pada Mei 2024, Yad Vashem menyatakan telah mengembangkan perangkat lunak berbasis AI untuk menyisir tumpukan catatan guna mengidentifikasi ratusan ribu orang Yahudi yang tewas dalam Holocaust yang namanya hilang dari monumen resmi.
Saat itu, Yad Vashem telah melacak informasi tentang 4,9 juta orang dengan membaca pernyataan dan dokumen, memeriksa rekaman film, pemakaman dan catatan lainnya.
BACA JUGA:
Nama-nama korban Holocaust, serta berkas-berkas pribadi yang menceritakan kehidupan banyak dari mereka, dikompilasi dalam basis data daring Yad Vashem dalam enam bahasa.
Basis data ini, sebagaimana dicatat, telah membantu banyak keluarga bersatu kembali dengan kerabat dan keluarga yang telah tiada untuk mengenang orang-orang terkasih, terutama karena sebagian besar korban tidak memiliki makam.
"Nazi tidak hanya bertujuan untuk membunuh mereka, tetapi juga untuk menghapus keberadaan mereka. Dan dengan mengidentifikasi lima juta nama, kami memulihkan identitas kemanusiaan mereka dan memastikan ingatan mereka tetap lestari," kata Alexander Avram, direktur Aula Nama Yad Vashem, yang mengepalai basis data pusat nama-nama korban.