JAKARTA - Polisi India menangkap aktivis Ladakh, Sonam Wangchuk, pada Jumat, usai protes berujung bentrokan yang menewaskan empat orang.
Gedung-gedung dan kendaraan polisi dibakar oleh massa yang marah di Leh pada Rabu, ketika para pengunjuk rasa menjauh dari lokasi tempat Wangchuk melakukan mogok makan selama 14 hari.
Mereka bentrok dengan polisi, yang melepaskan tembakan. Pihak berwenang mengatakan polisi bertindak untuk membela diri.
Seorang petugas polisi yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan Wangchuk ditangkap sebelum konferensi pers yang akan ia sampaikan.
Kementerian Dalam Negeri India sebelumnya menuduh Wangchuk yang membatalkan puasanya setelah kekerasan tersebut, menghasut orang melalui "pernyataan provokatifnya".
Kementerian juga telah mencabut izin yang diberikan kepada organisasi non-pemerintahnya, Gerakan Pendidikan dan Kebudayaan Mahasiswa Ladakh, atas tuduhan pelanggaran.
Jam malam telah diberlakukan di beberapa wilayah tersebut sejak bentrokan, yang mengakibatkan puluhan orang terluka, termasuk polisi dan personel keamanan.
Dilansir Reuters, Jumat, 26 September, pejabat lain yang juga tidak ingin disebutkan namanya mengatakan layanan internet seluler telah dihentikan di Leh sebagai tindakan pencegahan.
Wangchuk sebelumnya membantah tuduhan terhadapnya, dan mengatakan protes yang diwarnai kekerasan tersebut merupakan cerminan rasa frustrasi terhadap pemerintah federal.
BACA JUGA:
Daerah kantong Buddha-Muslim Ladakh kehilangan otonomi daerahnya pada tahun 2019, ketika pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi memisahkannya dari negara bagian Jammu dan Kashmir dan menempatkannya di bawah administrasi langsung New Delhi.
Para pengunjuk rasa juga menuntut kuota pekerjaan bagi penduduk lokal dan status khusus bagi wilayah tersebut, yang akan memungkinkan pembentukan badan-badan lokal terpilih untuk melindungi wilayah kesukuan.
Pemerintah federal dan para pemimpin Ladakh telah berdiskusi mengenai tuntutan tersebut sejak tahun 2023, dan dijadwalkan bertemu kembali pada tanggal 6 Oktober.