JAKARTA - Pemerintahan Taliban mengumumkan larangan internet di sebagian besar wilayah Afghanistan utara untuk mencegah aktivitas amoral.
Taliban sebelumnya menyuarakan keprihatinan atas pornografi dan hubungan antara pria dan wanita di dunia maya.
Larangan internet ini merupakan yang pertama sejak Taliban mengambil alih Afghanistan pada tahun 2021, meskipun Taliban juga telah mengumumkan sejumlah langkah lain termasuk menghentikan anak perempuan untuk bersekolah di sekolah menengah atas dan menghentikan perempuan bekerja di berbagai bidang.
Larangan ini akan mencakup lima provinsi—Kunduz, Badakhshan, Baghlan, Takhar, dan Balkh—di wilayah utara negara itu, yang mencakup pusat-pusat populasi di wilayah tersebut.
Pembatasan ini terbatas pada semua koneksi internet melalui kabel serat optik. Namun, akses internet melalui data seluler akan tetap tersedia.
Semua koneksi telah diputus, menurut pernyataan dari provinsi-provinsi tersebut.
"Langkah ini telah diambil untuk mencegah aktivitas amoral," kata pernyataan Taliban dilansir Reuters, Kamis, 18 September.
Pemutusan jaringan serat optik ini membuat kantor, rumah, dan bisnis lainnya tidak memiliki koneksi internet.
BACA JUGA:
Sementara itu, mantan Duta Besar AS untuk Afghanistan, Zalmay Khalilzad, mengatakan larangan itu absurd.
"Jika pornografi benar-benar menjadi perhatian, seperti di banyak negara Islam, pornografi dapat dengan mudah disaring. Banyak negara di dunia Islam melakukan hal yang persis seperti itu," ujarnya.
Taliban secara resmi mengesahkan serangkaian aturan panjang yang mengatur moralitas akhir tahun lalu, mulai dari mewajibkan perempuan untuk menutupi wajah dan laki-laki untuk menumbuhkan jenggot hingga melarang pengemudi mobil memutar musik.
Pembatasan Taliban terhadap perempuan dan kebebasan berekspresi telah menuai kritik tajam dari kelompok-kelompok hak asasi manusia dan banyak pemerintah asing.